Ticker

6/recent/ticker-posts

Bulgaria, Jejak Negara Ke-50 yang diKunjungi

Dikutip dari J5NEWSROOM.COMBERBINCANG dengan orang yang telah banyak berjalan, pastilah menarik. Apalagi, berjalannya sampai jauh ke negeri orang.

Bak seperti ungkapan orang bijak, banyak berjalan banyak melihat, banyak melihat banyak meraih hikmah.

Beruntung, wartawan Majalah Siber Indonesia, J5NEWSROOM.COM, Saibansah Dardani dan Alia Safira berkesempatan berbincang dengan sosok yang telah berkelana hingga ke 50 negara itu. Apalagi, beberapa negara ditempuhnya dengan menyetir mobil sendiri. Tentu saja, beberapa negara posisi stir mobilnya tidak sama dengan mobil di Indonesia, stir kiri.

Siapakah sosok yang seperti tak punya rasa capek saat berkelana itu? Dialah seorang pengusaha kuliner yang juga owner Restoran Jepang Misticanza, Akbar. Berikut petikan wawancaranya:

Sebagai orang yang bisa berkelana hingga ke 50 negara, apa sih background pendidikan Anda?

Saya mengambil jurusan Sastra Cina di Universitas Indonesia (UI) Jakarta tahun 1984. Saat itu, cita-cita saya adalah menjadi diplomat. Padahal, ketika itu Indonesia belum membuka hubungan diplomatik dengan negara China, setelah dibekukan hampir 20 tahun lamanya. Karena pada tahun 1985, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI Jakarta membuka jurusan baru, yaitu Hubungan Internasional (HI). Maka untuk melengkapi ilmu yang sebelumnya, pada tahun 1986, saya putuskan untuk masuk ke jurusan baru tersebut.

Setelah hubungan diplomatik antara pemerintah Indonesia dan China dibuka, apa yang Anda lakukan?

Dulu, pada tahun 1989, mulai santer berita-berita tentang dilakukannya pertemuan intensif antara pemerintah Indonesia dan Cina. Tepat tanggal 8 Agustus 1990, secara resmi hubungan diplomatik antara kedua negara itu pun dibuka. Sehingga peluang bagi para diplomat alumni Sesdilu, termasuk yang khusus mempelajari studi Asia Timur, mulai terbuka lebar.

Tapi, karena saat lulus di tahun 1990 lalu, saya diterima bekerja di Kamar Dagang dan Industri Melayu Singapura (Singapore Malay Chamber of Commerce and Industry/SMCCI) sebagai Executive Officer, maka cita-cita sebagai diplomat itu pun kandas.

Karena di Singapura itu saya harus fokus pada pekerjaan baru yang berkantor di lantai 33 International Plaza Singapura.

Lalu, dari mana hobi Anda berkeliling ke berbagai negara itu? Apakah ketularan dari orang tua atau keluarga?

Begitu Employment Pass saya di-ACC oleh kantor Imigrasi Singapura, saat itulah hobi saya berkendara dan travelling mulai tumbuh, terutama untuk mengisi saat-saat libur weekend di Singapura. Tentunya sebagai refreshing dari kegiatan harian saya di Singapura yang monoton.

Sehari-hari saya pulang dan berangkat dengan MRT dari Eunos Station ke Tanjung Pagar, Anson Road. Rupanya, pekerjaan di Kamar Dagang Singapura tersebut, membawa saya untuk berkesempatan keliling ke 10 negara anggota ASEAN, tentunya untuk bertemu dengan kamar dagang dan pengusaha di masing-masing negara.

Bica diceritakan rekam jejak perjalanan Anda melintas ke berbagai negara itu?

Begini, setelah saya puas menjajaki seluruh wilayah negeri Singa tersebut, dari Woodland ke Pasir Ris, dari Changi sampai Jurong East, saat libur Imlek tahun 1992 selama dua minggu pun perjalanan saya mulai makin jauh. Yaitu, menjangkau negara tetangga, Malaysia, mulai Johor, Malaka, Kuala lumpur dan terus berlanjut sampai Sadao dan Hat Yai di Selatan Thailand.

Di sanalah kita merasakan antrian imigrasi di perbatasan yang dijaga ketat, karena daerah tersebut termasuk segitiga emas narkoba. Semua turun dari kendaraan menunggu gerbang dibuka jam 8 pagi.

Di wilayah perbatasan itu juga ada uniknya, saat berbelanja makanan dan lain-lain, saat kita membayar pakai uang dolar Singapura, penjual di sana bisa memberi kembalian dengan campuran uang Ringgit Malaysia dan Baht Thailand.


Di kota Pattani kita bisa bertemu beberapa orang Thai yang berbahasa Melayu. Rupaya semula wilayah tersebut memang tempat tinggal para petani Melayu yang berbahasa Yawi (Jawi, berasal dari Jawa). Dan memang di perbatasan dengan Malaysia.

Makan durian Musang King di tempat asalnya, Gua Musang, Kelantan, adalah pengalaman tak terlupakan, walaupun durian jenis itu belum sepopuler sekarang.

Setelah bekerja di Singapura, apakah Anda kembali ke Indonesia?

Iya, saya kembali ke Indonesia tahun 1995. Sekembali ke Indonesia, saya bekerja sebagai Sales Supervisor perusahaan kurir asal Amerika Serikat, yaitu United Parcel Service (UPS). Karena membawahi region Asia Pacific, perjalanan dinas saya pun semakin jauh, menjangkau seluruh negara Asia Tenggara dan Asia Timur, kecuali Korea Utara. Kesempatan ini membuat negara yang pernah saya dikujungi bertambah 6 negara lagi.

Dan ketika bertugas di Amerika Serikat (AS), karena perusahaan UPS itu berpusat di Atlanta, maka saat di Los Angeles, saya tidak menyia-nyiakan hobi menyetir dengan menyewa Budget Car Rental sampai ke San Francisco dan Las Vegas. Lalu behenti di tempat-tempat menarik di gurun Nevada dan lain-lain.

Setelah bekerja di perusahaan asing itu, pekerjaan apa yang Anda pilih?

Saya memilih jalur bisnis. Kini sebagai pengusaha trading, mulailah saya menjajaki produk-produk yang dapat diperjualbelikan ke berbagai negara. Dan tentu saja hobi menyetir sendiri kendaraan akan selalu dilakukan di saat-saat luang.

Ketika sedang berada di Dubai, misalnya, tentu saja saya tidak akan melewatkan untuk berkunjung ke emirat lain seperti Abu Dhabi, Sharjah, Ajman, Umm Al Quwain dan Ras Al Khaimah. Mengingat jarak, dari 7 emirat yang tergabung dalam Uni Emirat Arab (UAE), tersisa 1 yang belum dikunjungi, yaitu Fujairah, yang dibentuk tahun 1879.

BACA JUGA:Catatan Perjalanan Dua Minggu Menikmati Winter Eropa Barat, dari Roma ke Amsterdam Sejauh 2.500 Km

Anda menyetir mobil ratusan bahkan ribuan kilometer di negara orang, bisa diceritakan bagaimana pengalamannya?

Di Australia yang posisi setir mobil sama dengan di Indonesia, di sebelah kanan, dari Brisbane saya berkendara sampai Gold Coast. Sedangkan saat di Perth, saya berkendara sampai ke Freemantle. Kemudian, saat di Sydney, ini adalah perjalanan darat terjauh yang saya tempuh sampai ke kota Windsor, karena ada teman bisnis asal Lebanon yang kini mengisi hari tuanya di kota sunyi tersebut, yang berjarak 67 km dari pusat kota New South Wales, Sydney.

Tentunya banyak yang menarik saat berkunjung ke Eropa, di mana antara satu negara dengan negara lain jaraknya relatif tidak terlalu jauh. Sehingga mengendarai mobil di setir kiri selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sekali trip dari Timur ke Barat, 10 negara dapat dikunjungi.



Bulgaria, Negara ke-50 yang Saya Kunjungi

Bersama Bapak Duta Besar LBBP RI untuk Slovakia, Bapak Pribadi Sutiono dan istri, yang keduanya adalah senior di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jurusan Cina. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

BERBINCANG dengan orang yang telah banyak berjalan, pastilah menarik. Apalagi, berjalannya sampai jauh ke negeri orang.

Bak seperti ungkapan orang bijak, banyak berjalan banyak melihat, banyak melihat banyak meraih hikmah.

Beruntung, wartawan Majalah Siber Indonesia, J5NEWSROOM.COM, Saibansah Dardani dan Alia Safira berkesempatan berbincang dengan sosok yang telah berkelana hingga ke 50 negara itu. Apalagi, beberapa negara ditempuhnya dengan menyetir mobil sendiri. Tentu saja, beberapa negara posisi stir mobilnya tidak sama dengan mobil di Indonesia, stir kiri.

Siapakah sosok yang seperti tak punya rasa capek saat berkelana itu? Dialah seorang pengusaha kuliner yang juga owner Restoran Jepang Misticanza, Akbar. Berikut petikan wawancaranya:

Sebagai orang yang bisa berkelana hingga ke 50 negara, apa sih background pendidikan Anda?

Saya mengambil jurusan Sastra Cina di Universitas Indonesia (UI) Jakarta tahun 1984. Saat itu, cita-cita saya adalah menjadi diplomat. Padahal, ketika itu Indonesia belum membuka hubungan diplomatik dengan negara China, setelah dibekukan hampir 20 tahun lamanya. Karena pada tahun 1985, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI Jakarta membuka jurusan baru, yaitu Hubungan Internasional (HI). Maka untuk melengkapi ilmu yang sebelumnya, pada tahun 1986, saya putuskan untuk masuk ke jurusan baru tersebut.

Setelah hubungan diplomatik antara pemerintah Indonesia dan China dibuka, apa yang Anda lakukan?

Dulu, pada tahun 1989, mulai santer berita-berita tentang dilakukannya pertemuan intensif antara pemerintah Indonesia dan Cina. Tepat tanggal 8 Agustus 1990, secara resmi hubungan diplomatik antara kedua negara itu pun dibuka. Sehingga peluang bagi para diplomat alumni Sesdilu, termasuk yang khusus mempelajari studi Asia Timur, mulai terbuka lebar.

Tapi, karena saat lulus di tahun 1990 lalu, saya diterima bekerja di Kamar Dagang dan Industri Melayu Singapura (Singapore Malay Chamber of Commerce and Industry/SMCCI) sebagai Executive Officer, maka cita-cita sebagai diplomat itu pun kandas.

Karena di Singapura itu saya harus fokus pada pekerjaan baru yang berkantor di lantai 33 International Plaza Singapura.

Lalu, dari mana hobi Anda berkeliling ke berbagai negara itu? Apakah ketularan dari orang tua atau keluarga?

Begitu Employment Pass saya di-ACC oleh kantor Imigrasi Singapura, saat itulah hobi saya berkendara dan travelling mulai tumbuh, terutama untuk mengisi saat-saat libur weekend di Singapura. Tentunya sebagai refreshing dari kegiatan harian saya di Singapura yang monoton.

Sehari-hari saya pulang dan berangkat dengan MRT dari Eunos Station ke Tanjung Pagar, Anson Road. Rupanya, pekerjaan di Kamar Dagang Singapura tersebut, membawa saya untuk berkesempatan keliling ke 10 negara anggota ASEAN, tentunya untuk bertemu dengan kamar dagang dan pengusaha di masing-masing negara.

BACA JUGA: Sensasi Naik Mobil Sewaan Menempuh Jarak 800 Km Keliling Turki Barat

Bica diceritakan rekam jejak perjalanan Anda melintas ke berbagai negara itu?

Begini, setelah saya puas menjajaki seluruh wilayah negeri Singa tersebut, dari Woodland ke Pasir Ris, dari Changi sampai Jurong East, saat libur Imlek tahun 1992 selama dua minggu pun perjalanan saya mulai makin jauh. Yaitu, menjangkau negara tetangga, Malaysia, mulai Johor, Malaka, Kuala lumpur dan terus berlanjut sampai Sadao dan Hat Yai di Selatan Thailand.

Di sanalah kita merasakan antrian imigrasi di perbatasan yang dijaga ketat, karena daerah tersebut termasuk segitiga emas narkoba. Semua turun dari kendaraan menunggu gerbang dibuka jam 8 pagi.

Di wilayah perbatasan itu juga ada uniknya, saat berbelanja makanan dan lain-lain, saat kita membayar pakai uang dolar Singapura, penjual di sana bisa memberi kembalian dengan campuran uang Ringgit Malaysia dan Baht Thailand.

Bersama Konsul Jenderal RI di Hamburg, Jerman, Bapak Ardian Wicaksono dan istri, mereka berdua sesama alumni FISIP UI jurusan Hubungan Internasional. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

Di kota Pattani kita bisa bertemu beberapa orang Thai yang berbahasa Melayu. Rupaya semula wilayah tersebut memang tempat tinggal para petani Melayu yang berbahasa Yawi (Jawi, berasal dari Jawa). Dan memang di perbatasan dengan Malaysia.

Makan durian Musang King di tempat asalnya, Gua Musang, Kelantan, adalah pengalaman tak terlupakan, walaupun durian jenis itu belum sepopuler sekarang.

Setelah bekerja di Singapura, apakah Anda kembali ke Indonesia?

Iya, saya kembali ke Indonesia tahun 1995. Sekembali ke Indonesia, saya bekerja sebagai Sales Supervisor perusahaan kurir asal Amerika Serikat, yaitu United Parcel Service (UPS). Karena membawahi region Asia Pacific, perjalanan dinas saya pun semakin jauh, menjangkau seluruh negara Asia Tenggara dan Asia Timur, kecuali Korea Utara. Kesempatan ini membuat negara yang pernah saya dikujungi bertambah 6 negara lagi.

Dan ketika bertugas di Amerika Serikat (AS), karena perusahaan UPS itu berpusat di Atlanta, maka saat di Los Angeles, saya tidak menyia-nyiakan hobi menyetir dengan menyewa Budget Car Rental sampai ke San Francisco dan Las Vegas. Lalu behenti di tempat-tempat menarik di gurun Nevada dan lain-lain.

Setelah bekerja di perusahaan asing itu, pekerjaan apa yang Anda pilih?

Saya memilih jalur bisnis. Kini sebagai pengusaha trading, mulailah saya menjajaki produk-produk yang dapat diperjualbelikan ke berbagai negara. Dan tentu saja hobi menyetir sendiri kendaraan akan selalu dilakukan di saat-saat luang.

Ketika sedang berada di Dubai, misalnya, tentu saja saya tidak akan melewatkan untuk berkunjung ke emirat lain seperti Abu Dhabi, Sharjah, Ajman, Umm Al Quwain dan Ras Al Khaimah. Mengingat jarak, dari 7 emirat yang tergabung dalam Uni Emirat Arab (UAE), tersisa 1 yang belum dikunjungi, yaitu Fujairah, yang dibentuk tahun 1879.

BACA JUGA:Catatan Perjalanan Dua Minggu Menikmati Winter Eropa Barat, dari Roma ke Amsterdam Sejauh 2.500 Km

Anda menyetir mobil ratusan bahkan ribuan kilometer di negara orang, bisa diceritakan bagaimana pengalamannya?

Di Australia yang posisi setir mobil sama dengan di Indonesia, di sebelah kanan, dari Brisbane saya berkendara sampai Gold Coast. Sedangkan saat di Perth, saya berkendara sampai ke Freemantle. Kemudian, saat di Sydney, ini adalah perjalanan darat terjauh yang saya tempuh sampai ke kota Windsor, karena ada teman bisnis asal Lebanon yang kini mengisi hari tuanya di kota sunyi tersebut, yang berjarak 67 km dari pusat kota New South Wales, Sydney.

Tentunya banyak yang menarik saat berkunjung ke Eropa, di mana antara satu negara dengan negara lain jaraknya relatif tidak terlalu jauh. Sehingga mengendarai mobil di setir kiri selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sekali trip dari Timur ke Barat, 10 negara dapat dikunjungi.

Menyetir juga bisa menjadi cara penangkal pikun. Hal ini pun dibenarkan oleh Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc, pakar gizi dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

Selain berkendara, moda transportasi kereta api juga bisa menjadi pilihan menarik bagi saya. Seperti saat melakukan kunjungan dari Wina, Austria, dan Sopron di perbatasan Hungaria. Lalu ke Bratislava, Slovakia di Eropa Timur, dengan mobil, dan tentu saja sambil mampir di Factory Outlet terbesar di Parndorf.

Sebagai alumni FISIP UI, tentu jaringan persabahatan Anda banyak tersebar di berbagai negara, ada pengalaman bertemu dengan mereka?

Pasti ada. Saya bertemu dengan senior sewaktu kuliah di Sastra Cina UI yang kini menjadi Duta Besar di Slovakia. Ini menjadi kesan tersendiri bagi saya. Karena selain berkesempatan bisa bermalam di Wisma Indonesia di Bratislava, saya juga bisa makan menu daging angsa istimewa. Lalu berkunjung ke segitiga perbatasan Slovakia-Hungaria-Austria yang hanya dalam bentuk meja batu segitiga, merupakan pengalaman tersendiri.

Di Wina pun silaturahmi dengan teman semasa di Singapura, EA Adoracion dan ayahnya, yang kini menetap di sana bersama suami yang warga negara Austria. Saya juga bisa berkendara ke seluruh pelosok Austria yang tentunya tidak masuk dalam paket-paket tujuan wisata pada umumnya. Termasuk naik kereta di atas awan, Mt. Schneeberg di ketinggian 2.046 mdpl setelah berkendara sekitar 1 jam dari pusat kota Wina.

Lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta api ke Praha, Ceko, lalu Hamburg, Jerman, dan Amsterdam. Dari Amsterdam dengan mobil ke Brusel, Belgia dan Paris, Perancis.

Sepertinya Anda tidak bermasalah dengan faktor cuaca di negara yang Anda kunjungi, bisa diceritakan pengalaman saat berkelana ke Eropa?

Di bulan Oktober 2022, dari Eropa Timur saya berkelana ke Eropa Barat menempuh jarak hampir 2.500 km, dalam cuaca yang bersahabat, sehingga banyak tempat menarik termasuk naik ke puncak menara Eifel, di suhu sekitar 12-15’ C.

Saat di Hamburg, saya sempat bimbang juga untuk extend return flight dari Paris ke Jakarta, untuk melipir ke Skandinavia, mulai Denmark, dan seterusnya. Karena saya mendengar cerita menarik saat naik kereta api, gerbongnya masuk ke kapal ferry untuk menyeberang dari daratan Eropa ke arah Copenhagen, lalu gerbong kereta on board lagi menuju Swedia.

Sayang, saat itu waktu yang tidak mengijinkan, jadi tetap lanjut ke rencana awal. Yaitu, dari Berlin ke Hamburg, bertemu dengan Konsulat Jenderal (Konjen) RI juga sesama alumni Hubungan Internasional, FISIP UI, Ardian Wicaksono. Untungnya punya sahabat yang menjadi Konjen RI, sehingga saya sempat semalam menginap di Wisma Indonesia, sebelum melanjut perjalanan ke Belanda.

Perjalanan lain di musim Winter awal Januari 2023. Mulai dari Eropa Selatan, landing di Roma dan seterusnya jalan darat ke Vatikan, Swiss, Luxemburg, Liechtnstein. Kemudian, menuju Paris, Belgia dan berakhir di Belanda, Volendam dan Roermond Factory Outlet yang ditutup dengan keberangkatan dari bandara Schipol ke Jakarta. Dalam trip ke dua di Eropa ini juga 10 negara tambahan dapat dikunjungi.

Anda juga beberapa kali berkunjung ke Turki, apakah Anda juga menyetir mobil sendiri di Turki?

Terakhir saat ke Turki, tentunya sangat menarik untuk berkendara menuju ke Triangular border point Turki-Bulgaria-Yunani, yang jaraknya tidak sampai 300 km dari kota Istanbul. Di Airport Istanbul saya menyewa mobil dari Budget Rent a Car, sebagai penyewa setia sejak 27 tahun lalu di Tom Bradley Airport Los Angeles, AS. Hanya saja mengingat mulainya bulan puasa Ramadhan, maka semangat untuk menjelajah lebih jauh pelosok negara yang telah berganti nama jadi Turkiye itu untuk sementara ditunda.

Bulgaria menjadi negara ke-50 yang pernah saya kunjungi, tepat sampai di kota kecil perbatasan Kapikule-Kapiten Andreevo, tanggal 1 Ramadhan 1444 H, atau 23 Maret 2023.

Padahal bila diteruskan sampai Sofia, ibukota Bulgaria, hanya perlu menempuh jarak 280 km lagi. Tentu keesokan harinya bisa lanjut ke Skopte, ibukota Makedonia Utara yang hanya berjarak 242 km, seperti jarak Jakarta-Cirebon lewat sedikit. Lalu, berikutnya 91 km lagi sudah bisa sampai Pristina ibukota Kosovo.

Sebenarnya, apa sih yang memotivasi Anda untuk berkelana ke berbagai negara di dunia itu? Apalagi juga menyetir mobil sendiri?


Yang memotivasi perjalanan saya selama ini, selain tentunya bisnis dan silaturahmi, juga adalah pertimbangan kesehatan. Karena beberapa ahli sepakat, bahwa menyetir dapat mengurangi pikun. Karena dengan menyetir, kita bisa menggerakkan otot-otot kaki dan tangan. Karena itu menyetir juga bisa menjadi cara penangkal pikun. Hal ini pun dibenarkan oleh Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc, pakar gizi dan dosen Fakultas Kedokteran UI yang dapat ditemui kumparan pada acara “Tepatkah Konsumsi Gula Anda?”


Tidak mengherankan kalau saat naik taxi di Jepang, juga di Singapura, saya dapat pak sopir, bahkan pernah sopir wanita, usianya di atas 60 tahun. Ada juga rasa khawatir saat naik taxi Crown Tua dari Shibuya Tokyo ke airport Narita, karena sopirnya kakek berusia 70 tahunan yang sudah bungkuk, ternyata sampai juga di tujuan dengan tepat waktu.


Setelah 50 negara Anda kunjungi, apakah masih ada negara-negara lain yang menjadi agenda perjalanan Anda selanjutnya?


Dari postingan saya di medsos khususnya Facebook, saat ini saya sudah dapat japrian melalui messanger. Yaitu, undangan untuk berkunjung ke negara yang kebetulan belum pernah saya datangi, Manama di Bahrain. Juga undangan dari Duta Besar Tanzania, yang mencakup Rwanda dan Burundi, yang keduanya alumni Fakultas Sastra UI.


Lalu, undangan ke Pakistan, dari sesama mahasiswa FISIP angkatan 86. Dan undangan dari seorang banker, Agrani Bank di Dacca, Bangladesh. Yang tentunya semua undangan tersebut pastilah menarik untuk dijadikan sebagai jadwal perjalanan saya berikutnya. Semoga Allah SWT memberi saya kesehatan dan kekuatan untuk menjawab undangan-undangan tersebut. Aamiin*

Sumber:

https://j5newsroom.com/2023/03/25/bulgaria-negara-ke-50-yang-saya-kunjungi/


Posting Komentar

0 Komentar