Ticker

6/recent/ticker-posts

CHINA TERAPKAN ‘WOLF WARRIOR DIPLOMACY’

CHINA TERAPKAN ‘WOLF WARRIOR DIPLOMACY’
Oleh: Asruchin Mohamad

Seorang mantan anggota unit pasukan khusus yang sudah kenyang dengan tugas-tugas berat di kesatuannya telah mengundurkan diri dan memilih tinggal di satu negara Afrika yang jauh dari hiruk-pikuk kota metropolitan serta berbagai kepentingan politik dan ekonomi yang menyertainya. Namun saat terjadi pemberontakan bersenjata terhadap pemerintahan yang sah, maka darah militernya mulai terusik. Dan ketika mengetahui ternyata kelompok pemberontak dibantu oleh tentara sewaan ‘mercenaries’ dengan persenjataan modern, jiwa heroiknya yang telah terbentuk selama menjadi pasukan khusus ‘Wolf Warrior’ (WW) menggelegak. Bagaikan jagoan a-la Rambo, ia menenteng kembali senjatanya untuk membantu pihak yang mengalami kesulitan dalam kondisi keamanan yang tidak menentu. Si jagoan itu bernama Leng Feng, sutradara merangkap pemeran utama sebagai super-hero dalam film ‘Wolf Warrior II’. Jagoan Leng Feng memulai aksinya dengan mengawal petugas kesehatan dari China dan para buruh pabrik yang terjebak dalam desingan peluru antara pasukan pemerintah dan tentara bayaran pemberontak.  

Pada serial perdana ‘Wolf Warrior’, Leng Feng digambarkan sebagai penembak jitu yang bandel dalam kesatuan TPR (Tentara Pembebasan Rakyat), kemudian direkrut dalam unit pasukan khusus ‘Wolf Warriors’ dengan tugas utama untuk menghancurkan gembong obat bius China yang dilindungi oleh tentara bayaran pimpinan Tom Cat (Scott Atkins), ex pasukan khusus Angkatan Laut AS SEAL. Dalam film ‘Wolf Warrior II’, jagoan Leng Feng yang sedang menikmati kebebasannya di Afrika kembali harus berhadapan dengan kelompok bersenjata asing berkulit putih, kali ini dari kelompok pemberontak dan penyelundup senjata yang dipimpin oleh Big Daddy (Frank Grillo) dari Dyon Corp, perusahaan tentara sewaan Amerika. Selain menyuguhkan hiburan yang meningkatkan adrenalin dalam bentuk ketrampilan beladiri, baku tembak, kejar-kejaran mobil, dan bahkan pertempuran tank, film serial Wolf Warrior menjadi sarana propaganda tentang bangkitnya China sebagai negara besar yang siap menghadapi musuh di manapun. Pada Wolf Warrior II disertakan tagline yang berbunyi: ‘Siapapaun yang menyerang China akan dihabisi, dimanapun mereka berada’.   

Sukses menjadi box-office dengan pemasukan awal sebesar US$ 900 juta, maka misi utama film ini untuk membangkitkan semangat patriotisme rakyat China dalam melakukan perlawanan terhadap kekuatan asing terutama Amerika Serikat, cukup berhasil. Sejumlah media massa pemerintah ikut meningkatkan semangat nasionalisme para pembacanya dengan menekankan tidak perlu tunduk terhadap tuntutan AS dalam Perang Dagang maupun terkait dengan pemberlakuan Security Law di Hongkong, karena hal tersebut dianggap sebagai pengulangan penghinaan kaum kolonial terhadap bangsa China. Presiden Xi Jinping juga telah menyatakan bahwa kemunduran sementara ekonomi China sebagai akibat dari Perang Dagang justru makin memperkuat tekat untuk menuju kebangkitan China yang tidak bisa dihalangi lagi. Para kritikus Film di Amerika Serikat menggolongkan ‘Wolf Warrior I & II’ sebagai film propaganda anti-Amerika, dan Pemerintah serta warga Amerika memang wajar tidak setuju dengan film propaganda yang nyata-nyata telah memojokkan AS. Namun film ‘Wolf Warriors’ tersebut telah menggambarkan keyakinan kuat masyarakat dan pemimpin China akan kebangkitan negaranya menjadi kekuatan global bersamaan dengan merosotnya peran AS di dunia internasional.

PERCAYA DIRI, ASERTIF DAN AGRESIF

Karakter jagoan Rambo a-la China, Leng Feng yang sangat percaya diri, pemberani, tangguh ditambah dengan pelatihan dan pengalaman dari kesatuan elit militernya telah menjadikannya sebagai super-hero yang membanggakan bagi pemirsa film-film action di China. Kedigdayaan dan keberanian Leng Feng dalam menghadapi berbagai tantangan merupakan refleksi dari kondisi China dalam percaturan internasional. Sejak memegang kekuasaan tertinggi di China pada tahun 2012, Presiden Xi Jinping mulai meninggalkan prinsip ‘taoguang yanghui’ warisan Deng Xiaoping yang berarti ‘menyembunyikan kekuatan, sambil menunggu waktu yang tepat’. Merasakan adanya ketidaksukaan dunia Barat terutama Amerika Serikat terhadap kebangkitan China sebagai negara besar, Xi Jinping menyerukan ‘zhandou jingshen’ (a fighting spirit) kepada para pejabat sipil dan militernya. Kepada jajaran diplomat, diminta untuk menjalankan ‘major-country diplomacy with Chinese characteristics’, yaitu menunjukkan kepada dunia tentang pengembalian status China sebagai ‘global power’.

Koran suara pemerintah Global Times dalam editorialnya pada penerbitan April 2020 menyebutkan bahwa era dimana China menjadi bangsa penurut sudah lama sirna. Kini rakyat China tidak lagi merasa puas dengan cara-cara diplomasi yang lembek. Semangat yang dipompakan oleh Presiden Xi Jinping ditambah dengan harapan masyarakat untuk menunjukkan kebesaran dan kekuatan China di dunia, telah mendorong para diplomat China berlomba untuk bersuara lantang dalam membela ‘kepentingan nasional’ China. Mereka meyakini saatnya telah tiba untuk menjadikan China lebih berarti dan bersinar di dunia internasional. Dimulai dengan cuitan di Twitter oleh diplomat Zhao Lijian ketika masih bertugas di Kedutaan Besar China Islamabad, Pakistan yang melakukan serangan balik terhadap kritik-kritik yang ditujukan ke otoritas China dalam penanganan virus Corona. Demikian juga terhadap pengritik mengenai rendahnya kwalitas perlengkapan medis asal China. Sekembalinya dari penugasan di Pakistan, Zhao Lijian mendapatkan promosi sebagai Jurubicara Kementerian Negeri.  

Promosi Zhao telah mendorong para diplomat China lainnya untuk saling berlomba menunjukkan kegarangan dan pro-aktifnya. Di Eropa, Amerika dan Australia tercatat Duta Besar China di Stockholm Gui Congyou, Dubes Lu Shaye di Paris, Dubes Cong Peiwu di Ottawa serta Embassy China di Canberra, Wellington dan Praha telah membantah dan bahkan kembali menyerang pemerintah setempat, media-massa atau lembaga tertentu di wilayah akreditasinya yang telah mengangkat atau mengkritik kebijakan pemerintah China dalam menangani pandemi Covid-19, ‘mendidik’ penduduk Muslim Uighur, demo di Hongkong atau mempersoalkan sistem sosial-politik yang berlaku di China. Agresivitas yang sama juga dilakukan oleh para diplomat China di negara-negara Asia seperti India, Pakistan, Srilanka, Iran, Kazakhstan, Singapore serta di Brazilia dan Venezuela. Gaya berdiplomasi yang sangat reaktif dan bahkan ofensif dengan nada tinggi dan penggunaan kata/kalimat yang keras dan bahkan terkesan tidak diplomatis, membuatnya dijuluki ‘Wolf Warrior Diplomacy’, meminjam judul film super-hero China yang dianggap patriotis di kalangan para pemuda dan kaum nasionalis.

Dari sudut pandang China, ‘wolf warrior diplomacy’ diperlukan sebagai jawaban langsung terhadap pendekatan atau perlakuan yang dianggap tidak adil terhadap China dan rakyatnya yang dilakukan oleh negara-negara lain terutama Amerika Serikat. Keluhan mendasar China terhadap dunia Barat dan AS adalah bahwa jika publikasi Barat menyampaikan opini yang keliru dikatakan sebagai kebebasan berpendapat, sementara jika China menyampaikan sesuatu yang berbeda dengan versi mereka dikatakan sebagai propaganda atau informasi yang menyesatkan. Dalam menterjemahkan permintaan Presiden Xi Jinping untuk meningkatkan ‘fighting spirit’, Menlu China Wang Yi akhir tahun 2019 mengumpulkan para diplomatnya di Beijing untuk memompa semangat mereka agar lebih gigih dalam mewakili kepentingan negaranya di luar negeri dan lebih vokal dalam membela Pemerintah Komunis China dari para pengritiknya. Wang Yi menegaskan bahwa demi menjaga kehormatan dan martabat bangsa, pihaknya akan melawan segala bentuk penghinaan dari manapun datangnya. 

HASIL YANG KONTRA-PRODUKTIF

Sejumlah analis berpendapat bahwa ‘wolf warrior diplomacy’ sebagaimana yang dipraktekkan oleh China sekarang ini merupakan bentuk diplomasi defensif, sebagai refleksi dari pimpinan partai dan pemerintahan yang merasa kurang ‘secure’ terhadap posisinya, sehingga memerlukan tindakan yang terlihat ‘tough’ dengan penggunaan bahasa bombastis sebagai cara untuk menarik perhatian kaum nasionalis di dalam negeri baik dari jajaran elit partai maupun masyarakat luas pada umumnya. Mantan Wakil Menlu China Fu Ying serta para diplomat senior China seangkatannya mengindikasikan bahwa diplomasi keras China a-la ‘wolf warrior’ lebih ditujukan kepada audience domestik daripada komunitas internasional. Madame Fu Ying juga menyampaikan pendapatnya bahwa diskursus dalam dunia diplomatik tidak saja terkait dengan hak untuk berbicara pada forum global tetapi terutama pada sejauh mana isi dari pendapat seorang diplomat bisa lebih efektif didengar dan dapat berpengaruh dalam komunitas dunia diplomatik. 

Majalah Foreign Affairs edisi minggu pertama Mei 2020 memuat pendapat mantan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd yang melihat diplomasi China lebih ofensif menjadi kontra-produktif dari tujuan yang ingin dicapai. Gaya diplomasi ‘wolf warrior’ yang menjadi mode para diplomat China ternyata telah meningkatkan sentimen anti-China di negara-negara seperti India, Indonesia, Iran dan Australia. Sikap warga Amerika terhadap China tidak berbeda dengan masyarakat di Asia. Menurut hasil ‘Pew polls’ yang dirilis bulan April 2020, 66 persen penduduk Amerika Serikat kurang merasa nyaman (unfavourable) terhadap China. Ini merupakan pandangan negatif tentang China dengan persentase tertinggi sejak pertanyaan yang sama selalu diajukan sejak tahun 2005. Hasil survei ini memang menjadi perhatian Tim Sukses dua pasangan kandidat Calon Presiden AS, sehingga tema kampanye calon petahana Donald Trump dari Partai Republik maupun penantangnya Joe Biden dari Partai Demokrat dipastikan akan menggunakan isu China sebagai salah satu tema penting kampanye mereka.     

Persepsi Eropa terhadap China juga tidak jauh berbeda dengan masyarakat Amerika dan Asia pada umumnya. Seorang pengamat China dari ‘German Marshall Fund’, Mareike Ohlberg mengamati perubahan mencolok perilaku diplomat China. Dahulu dalam menghadapi mitranya dari Jerman dan Eropa pada umumnya, diplomat China bersikap ‘low profile’ dengan mengedepankan kerjasama jangka panjang yang konstruktif dan positif, kini mereka datang dengan pernyataan-pernyataan yang cenderung destruktif terhadap mitra Eropanya. Bahkan seorang diplomat Jerman menyaksikan  bagaimana para diplomat China berbicara dengan nada tinggi seperti menghadapi wakil dari negara-negara yang dianggap kecil atau lemah. Dia menambahkan meskipun sikap garang mereka bersumber karena terjadinya rivalitas kekuatan Superpowers China-AS, namun demikian dampak negatif yang terjadi akibat krisis virus Corona banyak dirasakan oleh negara-negara Eropa. Sebagaimana Perancis yang merasakan kecewa terhadap sikap China tentang ketidakjelasan sumber Covid-19, seorang diplomat Inggris senior sampai mengatakan bahwa negaranya tidak mungkin lagi melakukan ‘business as usual’ dengan China.

Sikap reaktif diplomasi ‘wolf warrior’ telah didemonstrasikan oleh Kedubes China di Canberra yang menghentikan impor daging sapi dan barley dari Australia sebagai balasan langsung atas seruan PM Australia Scott Morrison untuk dilakukannya investigasi internasional tentang asal mula pandemi Covid-19. Dengan sikap yang sama pemerintah China mengancam akan membatalkan untuk membangun instalasi listrik tenaga nuklir serta jaringan rel kereta cepat di Inggris setelah PM Boris Johnson merencanakan akan menutup pengoperasian jaringan telekomunikasi dengan teknologi Huwei di Inggris. Gaya diplomasi a-la jagoan ‘wolf warrior’ ini ternyata mendorong terbentuknya aliansi intelijen ‘Five Eyes’ yang terdiri dari Australia, Inggris, Selandia Baru, Canada dan Amerika Serikat. Aliansi serupa yang lebih longgar untuk menghadapi para diplomat ‘wolf warrior’ China juga telah dibentuk oleh Jerman, Jepang dan Perancis pada tahun 2018.

Aliansi politik-militer juga mulai terbentuk dalam menghadapi kebijakan luar negeri China yang agresif. ‘Quad’ yang beranggotakan 4 negara, yaitu Australia, India, Jepang dan Amerika Serikat. Ketiga anggota Quad yang masing-masing secara terpisah telah melakukan latihan militer dengan armada AL AS, sepakat untuk saling memberikan akses kapal perang di basis militer satu sama lain, serta melakukan latihan militer bersama di Samodra Hindia dan Lautan Pasifik.  Lebih dari itu China juga sudah mendapat peringatan dari Sekjen NATO Jens Stoltenberg agar tidak melakukan manuver atau bentuk ancaman yang ditujukan kepada Eropa. Pola diplomasi agresif yang diperagakan China sejak 3 tahun terakhir ternyata telah menjadi boomerang dan kontra-produktif terhadap sektor hubungan internasionalnya yang sudah barang tentu akan berimbas pada kondisi domestik, terutama di sektor ekonomi, perdagangan, industri serta sektor sosial-politik dlam kehidupan masyarakat pada umumnya. Kebijakan ‘wolf warrior diplomacy’ tentunya akan dievaluasi secara periodik setiap tahun atau setiap saat jika dianggap perlu. Tapi akankah gaya diplomasi dengan semangat tempur tinggi a-la super-hero Leng Feng dalam film ‘Wolf Warrior’ akan dihentikan atau tetap dipertahankan?  

‘WOLF WARRIOR DIPLOMACY’ BERLANJUT

Selama Xi Jinping memegang tampuk kekuasaan di China, ‘wolf warrior diplomacy’ akan tetap menjadi panduan gerak para diplomat China di bawah komando Menlu Wang Yi yang mendapat julukan ‘Menteri Luar Negeri Wolf Warrior’. Menlu Wang Yi ingin menghilangkan cap ‘Kementerian Pengkhianat’ yang penah disematkan kepada kementeriannya di tahun 1990-an karena dianggap terlalu tunduk dan hormat kepada dunia Barat. Wang Yi berusaha menghapus cap yang memalukan itu dengan menginstruksikan korps diplomatik China untuk mengambil sikap lebih asertif dan agresif dalam mempertahankan kepentingan dan reputasi China di luar negeri.  Dengan latar belakang telah berperadaban tinggi ribuan tahun silam, maka pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang pesat sejak 40 tahun terakhir telah menumbuhkan kebanggaan dan optimisme China untuk dapat menggapai kembali kejayaannya seperti yang pernah dialaminya di era kedinastian China. Pada peringatan 70 tahun berdirinya RRC, Presiden Xi Jinping menegaskan bahwa tidak ada kekuatan manapun yang dapat menghalangi langkah maju banga China menjadi negara modern yang kuat.

Melalui panduan Pemikiran Xi Jinping ‘Sosialisme dengan Karakteristik China untuk Era Baru’ yang diputuskan dalam Kongres Rakyat Nasional tahun 2017, pemerintah China memajukan target negaranya dapat mengejar AS sebagai ekonomi terbesar pertama dunia pada tahun 2035, yang berarti 14 tahun lebih cepat dari target sebelumnya. Setelah berhasil menggeser Jepang sebagai ekonomi terbesar ke-2 dunia pada tahun 2010, dan dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 9.5 persen sejak program Reformasi dan Pintu Terbuka (Gaige-Kaifang) diluncurkan oleh Deng Xiaoping 40 tahun lalu, para pimpinan China optimis bisa menyamai AS dalam 15 tahun ke depan. Melihat bagaimana AS kedodoran dalam menangani pandemi Covid-19 dengan korban meninggal lebih dari 580 ribu orang di AS berbanding dengan hanya sekitar 4600 orang di China, ditambah begitu kelabakannya dalam mencegah meluasnya kerusuhan rasial di seantero Amerika, sejumlah analis China maupun Barat memprediksi bahwa China akan dapat mengungguli AS sebagai kekuatan global. Bahkan keberhasilan Beijing membentengi diri dari dampak krisis finansial global 2008, seorang pengamat China dari CSIS (Center for Strategic and International Studies) AS, Jude Blanchette melihat hal tersebut sebagai pengaruh dari semangat dan keyakinan mereka tentang adanya persaingan antara ‘rising power’ China versus ‘a West in Decline’ di bawah kepemimpinan AS.  

Perubahan mendasar atau penyesuaian kebijakan luar negeri maupun program-program pembangunan sosial-ekonomi secara keseluruhan akan terjadi pada kwartal ke-3 tahun 2022 ketika berlangsung sidang limatahunan Kongres Rakyat Nasional yang membuat keputusan-keputusan penting yang menjadi acuan program dan kebijakan pemerintah selama 5 tahun. Kepemimpinan Xi Jinping diperkirakan tidak akan goyah, sehingga kebijakan-kebijakan yang diambilnya termasuk ‘fighting spirit’ yang mendasari pelaksanaan ‘wolf warrior diplomacy’ luar negeri juga tidak akan mengalami perubahan signifikan. Sebaliknya jika suatu kebijakan penting pemerintah dianggap gagal dan harus diganti, maka sebagai konsekwensinya Xi Jinping sebagai penanggungjawab harus mundur. Semangat heroik Xi Jinping untuk ‘menyerang balik seluruh negara yang memusuhi China’ masih sangat populer dan mendapat sambutan luas di masyarakat persis seperti mereka berbondong-bondong memadati gedung bioskop menyaksikan film layar lebar ‘Wolf Warrior II’.

Posting Komentar

0 Komentar