Ticker

6/recent/ticker-posts

KEMBALINYA TALIBAN KE KABUL

KEMBALINYA TALIBAN KE KABUL

Oleh: Asruchin Mohamad

‘Caught by surprise’, kaget, tidak percaya, tidak menduga. Kata-kata itulah yang menjadi reaksi pertama dari banyak pihak ketika Taliban memasuki Kabul pada tanggal 15 Agustus 2021. Berbagai pihak termasuk para pejabat pemerintah Amerika Serikat memang telah memperkirakan bahwa tentara pemerintah Afghanistan tidak akan mampu menahan milisi Taliban memasuki ibokota Kabul, namun mereka ternyata menyerah terlalu cepat di luar perhitungan para pengamat geostrategis-militer internasional maupun pejabat AS serta negara-negara Eropa anggota NATO, maupun para pengamat dunia internasional. 

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken tidak bisa menutupi rasa terkejutnya: “the fact of the matter is we’ve seen that (the Afghan) forces has been unable to defend the country... but that has happened more quickly than we anticipated”. Milisi Taliban memang memasuki Kabul praktis tanpa perlawanan, tanpa perlu menembakkan satu peluru pun. Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin juga tidak kalah bingung dengan mudahnya tentara Afghanistan menyerah, dengan menyatakan: “the lack of resistance  that the Taliban faced from Afghan forces has been extremely disconcerting”. Dengan alasan menghindari petumpahan darah, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani terbang melarikan diri ke Dubai, UAE. Sepeninggal Asfraf Ghani, sehingga terjadi kekosongan kepemimpinan di Kabul sempat dimanfaatkan oleh para kriminal untuk berbuat kejahatan. Kondisi kacau tersebut ikut mendorong Taliban mempercepat masuk ke ibukota Kabul, yang secara de-facto mengambil alih tugas pemerintah menertibkan keamanan. 

Namun masuknya Taliban ke Kabul dan ambruknya pemerintahan Afghanistan dukungan AS justru telah menimbulkan kekacauan dan kepanikan masyarakat yang merasa bersalah karena selama ini memusuhi Taliban serta berpikir tentang kembalinya lagi pemerintahan Taliban yang mengekang hak perempuan, anti demokrasi seperti pada pada akhir tahun 1990-an. Ribuan warga ibukota dan sekitarnya berlomba ke Bandara Hamid Karzai, Kabul untuk bisa keluar dari Afghanistan. Eksodus warga Afghanistan yang panik dan memaksa ikut diangkut dengan pesawat militer AS telah menimbulkan tragedi kemanusiaan yang memilukan dimana pesawat US Air Force C-17 telah dijejali ratusan para pencari suaka sampai menimbulkan sejumlah korban meninggal karena terjatuh dari pesawat. Tragedi kemanusiaan tersebut telah menambah daftar kegagalan AS di Afghanistan.

Episode Great Game mulai pentas kembali antara Superpower dalam memperebutkan Afghanistan degan geostrategis serta menyimpan sumber mineral penting. Tiga minggu sebelum Kabul jatuh ke tangan Taliban, pemimpin politik senior Taliban Abdul Ghani Baradar telah diterima oleh Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri RRC Wang Yi di Tianjin, China. Adapun Rusia telah menjalin hubungan dengan Taliban di tataran diplomatik. Kementerian Luar Negeri Rusia bulan Juli, sebulan sebelum ambruknya pemerintah Afghanistan pimpinan Presiden Ashraf Ghani, telah menjadi tuan rumah delegasi Taliban dalam pertemuannya dengan juru runding pemerintah, Abdullah Abdullah. Kedua negara, Rusia dan China juga tetap mempertahankan Kedutaan Besar mereka masing-masing beroperasi di Kabul. 

AMERIKA TIDAK SUKA JAS MERAH

Presiden RI pertama Soekarno telah memperkenalkan istilah ‘Jas Merah’ (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) atau ‘lesson learned’ – perlunya belajar pengalaman masa lalu sehingga tidak mengulang kesalahan dan kegagalan yang sama. Tahun 1975, empatpuluh enam tahun lalu AS harus mengevakuasi tentaranya serta warga Vietnam Selatan, koalisinya dari atap gedung di Saigon, Vietnam untuk melarikan diri dari kejaran pejuang Vietcong, setelah selama 17 tahun tentara AS berperang membela rezim Vietnam Selatan pimpinan Nguyen Van Thieu dalam membendung komunisme pimpinan Ho Chi Minh yang bergerak dari Hanoi, Vietnam Utara.

‘Vietnam Syndrome’ telah mengetuk nurani rakyat Amerika untuk tidak lagi ikut campur terlebih dengan cara menginvasi negara lain. Namun naluri kesombongan AS muncul lagi ketika Twin Tower di New York dirobohkan oleh serangan teror. Peristiwa ini dijadikan justifikasi Presiden George Bush untuk memproklamirkan ‘Global War on Terror’ dengan langsung menyerang Afghanistan tahun 2001 dan menggulingkan pemerintahan Taliban karena dianggap melindungi Osama Bin Laden tertuduh utama arsitek teroris, dilanjutkan dengan serangan untuk menggulingkan Presiden Irak Saddam Hussein tahun 2003 yang dianggap sebagai berteman dengan teroris dan memiliki senjata pemusnah massal. Kampanye ‘war on terror’ itu dibungkus dengan penuh kebohongan untuk mengusai negara sasaran. Ketiga intervensi AS di Vietnam, Irak dan Kabul berakhir dengan kegagalan yang berdampak langsung pada ‘standing’ atau posisi AS di dunia

‘Finger-pointing’ saling menyalahkan berlangsung setelah tentara AS ditarik dari Kabul disusul dengan terjadinya tragedi kemanusiaan korban jiwa akibat ribuan warga Afghanistan yang ketakutan dan berebutan untuk diangkut oleh pesawat militer AS keluar dari Afghanistan. Mantan Presiden Donald Trump dan sejumlah anggota parlemen dari Partai Republik menyalahkan Presiden Biden yang tidak menggunakan strategi penarikan pasukan dengan baik sehingga menimbulkan kepanikan luar biasa bagi warga Kabul yang merasa terancam jiwanya karena selama ini bekerja sebagai interpreter, pegawai pemerintah terutama kaum wanita atau bahkan aparat keamanan dari kesatuan tentara atau polisi. Seharusnya terlebih dulu dilakukan evakuasi warga sipil Afghanistan yang selama ini telah banyak membantu tugas-tugas pemerintah AS di sana.

Presiden AS Joe Biden mempertanggungjawabkan keputusan untuk mengakhiri keberadaan pasukan AS di Afghanistan. Dalam pidatonya di Gedung Putih pada tanggal 16 Agustus 2021 yang dipit oleh Wakil Presiden Kamala Harris dan Menlu AS Antony Blinken, Presiden Biden menyatakan bahwa misi AS di Afghanistan bukanlah untuk membangun suatu negara, melainkan untuk mencegah serangan teroris yang diarahkan ke wilayah Amerika, “the US military presence was only to fight terrorism, not build the country”. Meskipun penarikan tentara AS dari Afghanistan telah disuarakan oleh banyak pimpinan Partai Demokrat maupun Partai Republik serta tokoh masyarakat, namun pengaturan penarikan pasukan yang berbuntut tragedi kemanusiaan dianggap telah menghancurkan citra dan reputasi AS di dunia internasional. 

Sebenarnya yang dilakukan oleh Joe Biden adalah melaksanakan kehendak mayoritas rakyat AS maupun yang diusulkan oleh bipartisan anggota Kongres AS. Ted Kaufman, orang kepercayaan Joe Biden sejak lama menyatakan bahwa “A big majority of the American people want us out of Afghanistan”. Warga AS sudah mengirim pesan kuatnya agar tentara AS keluar dari Afghanistan. Hal ini sesuai dengan janji Joe Biden yang disampaikan dalam kampanye pemilihan presiden tahun 2020 untuk mengakhiri perang tanpa ujung di Afghanistan. Isyarat penarikan tentara AS dari Afghanistan juga telah dikemukakan secara terbuka oleh dua pendahulu Presiden Joe Biden, yaitu Barack Obama dan Donald Trump.  Bahkan pada akhir Februari 2020 juru runding Presiden Trump, Zalmay Khalilzad dan mitranya dari Taliban Abdul Ghani Baradar telah menyepakati pengunduran tentara AS dari Afghanistan pada akhir April 2021.

Keberadaan militer AS di Afghanistan untuk menjalankan misi ‘War on Global Terror’ (WGOT) seharusnya diakhiri ketika pemerintah Taliban yang melindungi Osama bin Laden sebagai arsitek serangan Twin Tower di New York telah ditumbangkan, atau setelah Osama bin Laden berhasil dibunuh oleh US Navy SEALs Team Six pada awal Mei tahun 2011, dalam persembunyiannya di Abottabad, Pakistan. Keberadaan AS di Afghanistan setelah Bin Laden terbunuh telah mengubah misi awalnya dari melaksanakan WGOP, terutama memburu mastermind Osama bin Laden menjadi ingin membentuk pemerintahan Afghanistan yang demokratis dengan angkatan bersenjata, ‘Afghan National Defence Security Forces’ (ANDSF) yang kuat lengkap dengan persenjataan modern. Disinilah awal kegagalan AS karena pasukan pemerintah telah kehabisan tenaga dan motivasi, sebaliknya semangat Taliban tidak pernah kendor dalam ‘mempertahankan diri’ terhadap perang yang dipaksakan kepada mereka.

REZIM TALIBAN SERI KE-DUA

Mudahnya Taliban menundukkan pasukan pemerintah ‘Afghan National Defence Security Forces’ (ANDSF) dan menguasai satu-persatu wilayah Afghanistan telah membingungkan berbagai pihak dan sekaligus mendorong mereka untuk mencari penyebabnya. Apalagi jika diingat bahwa selama 20 tahun AS berada di Afghanistan, pemerintah Washington telah menggelontorkan dana tidak kurang dari US$ 83 milyar untuk biaya pelatihan, serta melengkapi dengan persenjataan modern dalam mengembangkan korps Polisi, Angkatan Darat, Angkatan Udara serta satuan Pasukan Khusus. Namun ternyata mereka tidak mampu menahan lajunya milisi Taliban dengan senjata ringan ataupun persenjataan lain yang standarnya jauh di bawah perlengkapan militer ANDSF.

Beberapa penyebab rapuhnya ANDSF antara lain adalah: maraknya korupsi di jajaran komandan atau institusi yang membawahi aparat keamanan, yaitu Kementerian Pertahanan dan Kementerian Dalam Negeri. Sejumlah komandan mempunyai daftar ‘ghost soldiers’ – tentara fiktif yang jatah gajinya bisa dikantongi. Bahkan tentara yang resmi terdaftar pun sering tidak dibayar sehingga mereka banyak yang meninggalkan tugas tanpa ijin komandan. Personil ANDSF tidak memiliki sentimen ideologi atau kebangsaan yang kuat dan tingginya ketidakpercayaan mereka terhadap pemimpin negara/pemerintahan. Kentalnya intervensi politik dalam menentukan komandan unit militer sehingga mengganggu efektivitas kepemimpinan militer di lapangan. Dan terakhir yang tak kalah pentingnya bahwa ANDSF tidak pernah mengembangkan kapasitas anggotanya terlepas dari ketergantungan pihak lain, pasukan AS & NATO.

Faktor lain yang tak kalah pentingnya tentang mudahnya tentara pemerintah Afghanistan menyerah dengan mudah tanpa terjadi baku tembak adalah adanya ikatan kekerabatan (kinship) dan kesukuan (tribal) yang kuat di antara mereka yang berseberangan. Forum kekerabatan ini merupakan lembaga sosial yang perannya bahkan lebih kuat dibandingkan dengan ikatan formal dalam pekerjaan di kantor atau loyalitas politik seseorang. Keputusan Tetua Adat (pemimpin suku) umumnya lebih mengikat daripada perintah atasan atau komandan kesatuan mereka. Dua pihak yang berseberangan sering terlibat pertempuran sengit ketika masih di bawah penguasaan pasukan AS & NATO, tetapi ketika AS pergi maka tentara pemerintah dengan sukarela meletakkan senjatanya, sebagian bergabung dengan milisi Taliban dan sebagian lainnya memilih pulang ke keluarganya. Hal serupa juga terjadi ketika tentara pemerintah komunis Afghanistan pimpinan Najibullah (1990-1992) dukungan Uni Soviet sangat garang, namun begitu US bubar maka rontok pula moral tentara rezim Najibullah. 

Dalam Konperensi Pers perdana yang diselenggarakan dengan Al-Jazeera di Kabul tanggal 17 Agustus 2021, Jurubicara Taliban Zabihullah Mujahid menyampaikan beberapa poin penting sebagai berikut: Setelah 20 tahun berperang kita akhirnya bebas dari tentara pendudukan; The Islamic Emirate akan melakukan pengampunan terhadap siapapun yang memusuhi kami sebelumnya; Afghanistan tidak lagi menjadi wilayah konflik atau medan peperangan; memberikan jaminan perlindungan dan keamanan terhadap semua rakyat Afghanistan; menjamin pengamanan terhadap semua Kedutaan Besar dan Kantor Perwakilan Asing di Afghanistan khususnya di Kabul; Tidak akan memperbolehkan wilayah Afghanistan digunakan untuk melakukan permusuhan dengan negara lain; memberikan hak kaum wanita serta kebebasan pers dalam kerangka Sharia; melakukan interaksi dengan dunia internasional untuk membangun ekonomi. 

Pemimpin Taliban Haibatullah Akhundzada dengan 3 (tiga) wakilnya: Mawlavi Yaqoob, Sirajuddin Haqqani dan Abdul Ghani Maradar harus berusaha keras untuk mengubah image dari pemerintahan Taliban tahun 1996-2001 yang otoriter, tidak menghormati hak wanita dan sangat eksklusif, yaitu tidak bisa bekerjasama dengan kelompok masyarakat Afghan lainnya. Kwartet pimpinan Taliban ‘baru’ di atas tertantang untuk mengubah rekam-jejak buram yang masih tertanam kuat dalam benak masyarakat Afghanistan atas pemerintahan Afghanistan sebelumnya. Untuk itu mereka telah terlibat pembicaraan dengan Hamid Karzai, Abdullah Abdullah, Gulbuddin Hekmatyar dalam membentuk pemerintah Afghanistan yang inklusif. Di bidang perlindungan hak wanita, anggota Komisi Budaya Taliban Enamullah Samangani menyerukan agar kaum wanita bergabung dengan pemerintah mendatang. 

Pemerintah Taliban mendatang harus mendapatkan ‘hearts and minds’ – simpati dan dukungan dari rakyatnya serta pengakuan dan legitimasi internasional. Dengan demikian pemerintahannya tidak saja dapat mengurangi ancaman pemberontakan atau rongrongan politik-keamanan dari dlam negeri, tetapi juga bisa segera mendapatkan bantuan dari luar baik dari negara-negara donor dan badan-badan internasional yang sangat dibutuhkan. Badan PBB World Food Program menyatakan anak-anak penderita gizi buruk di Afghanistan mencapai 2 (dua) juta akibat dari musim kering berkepanjangan, konflik dan diperburuk lagi dengan menjalarnya wabah Covid-19. Milisi/kelompok bersenjata termasuk Taliban dianggap mendapatkan pemasukan dari perdagangan obat bius, pemerasan, serta penculikan untuk mendapatkan tebusan.   
   
NO PERMANENT ENEMY, ONLY PERMANENT INTEREST

Suasana panik di Bandara Hamid Karzai, Kabul pada sepuluh hari terakhir dalam kegiatan mengevakuasi pasukan AS & NATO serta warga Afghanistan yang akan melarikan diri dari negaranya menjadi semakin kalut ketika terjadi bom bunuh diri pada tanggal 26 Agustus 2021 yang mengakibatkan 90 orang tewas di tempat termasuk 12 anggota marinir AS. Tidak berselang lama kelompok ISIS-K (Islamic State-Khorasan) segera mengklaim bertanggung-jawab atas pemboman yang dilakukan oleh martirnya. Menurut jaringan media ISIS ‘Amag News Agency’, pemboman hanya berjarak 5 (lima) meter dari pasukan AS. Jenderal AS Kenneth McKenzie bersumpah akan mengejar pelakunya dan dikatakannya juga bahwa ancaman pemboman lain kemungkinan akan terjadi lagi di Afghanistan, termasuk bom kendaraan dengan berbagai obyek sasaran tidak terkecuali puluhan pesawat yang sedang melakukan kegiatan evakuasi.

Jubir Taliban Zabihullah Mujahid mengutuk keras bom bunuh diri yang menargetkan warga sipil di Bandara Hamid Karzai, Kabul. Menurut informasi intelijen AS, kelompok ISIS di Afghanistan dan IS-Khorasan telah berselisih dengan Taliban yang mereka sebut sebagai ISIS ‘murtad’. Mantan pejabat Pentagon Michael Maloof mengatakan bahwa kelompok ISIS-K berencana menggulingkan kepemimpinan Taliban di Afghanistan dalam waktu dekat. Tindakan bom bunuh diri itu merupakan pesan keras kepada Taliban bahwa ISIS-lah yang mengendalikan Afghanistan. Lebih lanjut Maloof menyatakan bahwa ISIS adalah musuh bersama Amerika dan Taliban. Oleh karena itu AS dan dunia internasional perlu mempertimbangkan kembali komitmen dana bantuan kepada Afghanistan yang dipotong sebesar US$ 10 milyar, karena Taliban saat ini bukan saja perlu pengakuan tetapi juga dukungan finansial. Terbetik berita Taliban bahkan telah meminta bantuan Presiden AS Joe Biden untuk melaukan serangan kepada ISIS-K. Joe Biden menanggapi positif permintaan tersebut dengan mengatakan bahwa kerjasama dengan Taliban dalam menghadapi ISIS merupakan kepentingan masing-masing pihak.

Pengakhiran keberadaan tentara AS di Afghanistan, selain karena jenuh dan misi utamanya ‘war on global terror’ telah dianggap selesai, juga untuk bisa lebih fokus pada teater baru yang lebih besar, di Laut China Selatan, Selat Taiwan dan di kawasan Indo-Pasifik dalam membatasi pengaruh dan manuver China. Sebaliknya China akan dapat memenfaatkan momentum ini untuk menghidupkan kembali proyek investasinya yang sempat mandek di Afghanistan. Pertemuan Menlu Wang Yi dengan Mullah Abdul Ghani Baradar di Tianjin akhir bulan lalu selain menawarkan investasi ‘joint-venture’ baru bidang pertambangan juga akan dilakukan konektivitas program ‘Belt and Road Initiative’ dalam proyek-proyek pembangunan infrastruktur dan sarana ekonomi pada jalur ‘China Pakistan Economic Corridor’ (CPEC). Dalam hal ini China bisa menunjukkan rakyatny bahwa AS bukan lagi Superpower yang perlu ditakuti, adapun pesannya kepada dunia internasional bahwa AS adalah masa lalu sedangkan China merupakan harapan masa depan.

Negara adidaya lain, Rusia juga memanfaatkan hengkangnya AS dari Afghanistan untuk menyebarkan dua pesan. Yang pertama ditujukan kepada warga sendiri mengenai terus menurunnya kepemimpinan AS di dunia. Pesan lainnya diarahkan kepada masyarakat internasional bahwa AS tidak bisa diandalkan sebagai mitra untuk aliansi. Pesan kedua ini terutama ditujukan kepada negara tetangganya, Ukraina yang selama ini lebih berorientasi ke Barat khususnya Amerika Serikat. Selain kedua negara adidaya tersebut, kekuatan-kekuatan regional khususnya India, Pakistan dan Iran juga sangat berkepentingan membina hubungan baik dengan Taliban dan kelompok apapun yang berkuasa di Afghanistan dalam rangka kepentingan negara tersebut masing-masing, baik di sektor ekonomi dan perdagangan maupun dalam rangka pemeliharaan stabilitas bilateral di perbatasan serta untuk meminimalisir dan menangkal pengaruh paham-paham radikal dari kawasan ini.

Posting Komentar

0 Komentar