Ticker

6/recent/ticker-posts

MENGENAL GERBANG NERAKA DARVAZA

MENGENAL GERBANG NERAKA DARVAZA 

Oleh: Asruchin Mohamad

Tidak perlu ngeri dengan judul di atas, sebaliknya jangan terburu-buru menuduh ini berita hoax apalagi untuk mencari sensasi. Gerbang atau Pintu Neraka Darvaza merupakan julukan dari warga setempat terhadap kawah berapi ‘abadi’ yang berada di gurun pasir Karakum, Turkmenistan, Asia Tengah. Gurun pasir Karakum yang menempati 80% dari wilayah Turkmenistan (488.100 km2) dengan temperatur udara tertinggi mencapai antara 48 sampai 51.5 derajat Celcius. Di bawah hamparan gurun pasir yang panas menyengat ini tersimpan kandungan minyak dan gas yang besar. Dari berbagai sumur yang telah ditemukan, kandungan minyak diperkirakan sebesar 700 juta ton, adapun kandungan gas yang sudah terdeteksi sebesar 21.2 tcm (trillion cubic metres) yang merupakan kandungan kedua terbesar dunia.

Ketika masih berada di bawah kekuasaan Uni Soviet, pada tahun 1971 ahli geologi Rusia menemukan deposit besar minyak dan gas di desa kecil Darvaza di tengah gurun pasir Karakum. Saat alat pembornya menembus kantong udara yang menutup kawah gas alam bawah tanah, terjadi lubang besar dan melongsorkan tanah beserta semua perlengkapan ‘drilling rig’ di atasnya. Pada saat bersamaan keluarlah gas metan dalam jumlah yang sangat besar. Khawatir terdapat gas beracun menyebar luas ke udara terbuka, maka tim geolog Rusia memutuskan untuk melakukan ‘flaring’ atau pembakaran gas lepas ke udara dengan perhitungan gas akan terbakar habis dalam waktu beberapa hari. Setelah pembakaran berlangsung dalam hitungan hari, minggu, bulan, dan tahun ternyata kandungan gas di kawah tidak kunjung habis dan api terus menyala, sehingga terbentuklah kawah berapi abadi yang oleh penduduk lokal dinamakan ‘Gerbang Neraka Darvaza’.

The Gates of Hell atau Gerbang Neraka Darvaza berupa kawah berapi berdiameter 70m dengan kedalaman 30m, apinya sudah menyala tanpa henti selama 50 tahun. Letaknya berada 260 km di sebelah utara Ashgabat, ibukota Turkmenistan, bisa ditempuh dengan perjalanan darat selama sekitar 4 jam. Fenomena alam api nan tak pernah padam ‘Pintu Neraka Darvaza’ ini pada tahun 2014 pernah ditayangkan dalam serial ‘Die Trying’ National Geographic Channel pada episode ‘Crater of Fire’. Masih dalam tahun yang sama juga dipakai sebagai tema film Godzilla. Pada tahun 2018 kegiatan Amul-Hazar Automobile Rally juga pernah menggunakan area ini untuk stop-over menginap semalam. Dengan demikian para peserta rally dapat menyaksikan pemandangan menakjubkan berupa ‘sunset’ tenggelamnya matahari yang digantikan dengan cahaya api besar dari ‘Pintu Neraka Darvaza’.

Seorang penjelajah dunia dari Canada, George Kourounis pada tahun 2013 dengan menggunakan pakaian tahan api menuruni bagian kawah yang tidak dijalari api untuk mengumpulkan contoh organisme yang hidup dalam suhu ekstrim panas, dingin atau tekanan lainnya. Ternyata didapatkan sejumlah bakteri yang hidup nyaman di dalam kawah dalam suhu sangat panas. Kourounis juga mendapatkan informasi berupa versi berbeda tentang kawah Darvaza dari ahli geologi setempat bahwa area berlubang besar dengan diameter 70m dan kedalaman 30m terbentuk pada tahun 1960-an dan belum menimbulkan api sampai tahun 1980-an. Fenomena langka geologi ini diklasifikasikan ‘top secret’ oleh rezim Uni Soviet hingga sekarang. 

Presiden Turkmenistan Gurbanguly Berdymuhamedov setelah mengunjungi kawah api Darvaza pada tahun 2013 memutuskan untuk menutup lubang kawah dan dengan demikian diharapkan akan menghentikan gas yang terbuang percuma, namun kemudian berubah pikiran dengan tetap membiarkan kawah Darvaza untuk tetap menyala guna dijadikan sebagai destinsi wisata yang menarik. Kebijakan pemerintah Asghabat untuk mendatangkan turis dengan obyek-obyek wisata utama ‘Gerbang Neraka Darvaza’ serta zona wisata Awaza di pinggir pantai Laut Caspia ternyata belum maksimal dengan jumlah wisatawan asing rata-rata hanya berjumlah sekitar 6000 orang. Hal tersebut tidak terlepas dari masih belum diberlakukannya rezim bebas visa kunjungan. Calon pengunjung keTurkmenistan dipersyaratkan mendapatkan visa yang terlebih dulu harus memperoleh dukungan dari Agen Perjalanan di Asghabat. 

SEKILAS TENTANG TURKMENISTAN

Turkmenistan adalah satu dari 7 (tujuh) negara ‘Stan’ di wilayah Asia Selatan & Tengah: berturut-turut adalah Afghanistan, Kazakhstan, Kirgizstan, Pakistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Secara etimologi, kata Turkmenistan terbagi menjadi 2 potongan kata, yaitu ‘Turkmen’ berarti ‘hampir menyerupai Turkish’, dan ‘Stan’ mempunyai arti ‘tempat’ atau ‘negara’, sehingga Turkmenistan mengandung arti ‘negara dari bangsa yang mirip Turkish’. Turkmenistan bersama dengan Kazakhstan, Kirgizstan, Uzbekistan dan Azerbaijan memang memiliki kesamaan budaya dengan Turki, dasar bahasa dari negara-negara tersebut adalah bahasa Turki lama. Sehingga mereka bisa berkomunikasi satu sama lain menggunakan bahasa Turki. Bersama dengan negara-negara Asia Tengah serta negara eks Uni Soviet lainnya, Turkmenistan memerdekakan diri dari tahun 1991, menyusul bubarnya negara Uni Soviet yang berpusat di Moskow. 

Berpenduduk 6 juta jiwa dengan luas wilayah 488.100 km2, Turkmenistan merupakan negara di benua Asia yang jarang penduduknya. Penduduk Turkmenistan terdiri dari suku bangsa Turkmen 85%, Uzbek 5%, Rusia 4%, dan 6% berbagai suku lainnya. Dengan kekayaan alam yang melimpah terutama minyak bumi dan gas alam, sejak tahun 1993 pemerintah menggratiskan rakyatnya terhadap kebutuhan listrik, air, gas dan garam. Sesuai Undang-undang tahun 2003 kebijakan untuk menggratiskan 4 (empat) kebutuhan mendasar rumah tangga tersebut akan berlangsung sampai tahun 2030, namun kebijakan tersebut ternyata dihentikan mulai awal tahun 2019. Gas yang menjadi sumber devisa utama Turkmenistan diekspor ke Iran, Rusia dan China. Sejak tahun 2015 China merupakan pembeli gas terbanyak dari Turkmenistan sebanyak 35 bcma (35 milyar meter kubik per tahun) dikirim melalui 3 (tiga) pipa yang melewati Uzbekistan-Kazakhstan-China (Turkmenistan-China Gas Pipeline) serta jalur lain yang melewati Uzbekistan-Tajikistan-Kirgizstan-China (Central Asia-China Gas Pipeline). Sementara untuk penjualan ke negara-negara tetangga lainnya, Afghanistan, Pakistan dan India, telah dibangun pipa TAPI (Turkmenistan-Afghanistan-Pakistan-India). Menyusul adalah pipa gas bawah Laut Caspia dari Turkmenistan ke Azerbaijan (Trans-Caspian Gas Pipeline).

Sejak merdeka tahun 1991, Turkmenistan baru dipimpin oleh 2 (dua) orang Kepala Negara, yaitu Presiden Saparmurat Niyazov yang sempat diangkat menjadi Presiden seumur hidup namun meninggal tahun 2006, kemudian digantikan oleh Gurbanguly Berdimuhamedov sampai sekarang. Keduanya memimpin secara otoriter. Era di bawah Saparmurat Niyazov, Turkmenistan memberlakukan sistem satu partai. Sementara era kepemimpinan Berdimuhamedov, sudah diperbolehkan pembentukan partai politik lain (sistem multi partai), namun dalam prakteknya partai politik di luar partai penguasa, Democratic Party of Turkmenistan hanya dijadikan pelengkap demokrasi. Tidak ada partai oposisi murni, semua parpol di parlemen menjadi pengekor dan manut terhadap apapun rencana dan kebijakan pemerintah. Selain itu pertemuan atau perkumpulan massa terkait politik maupun pemerintahan dianggap ilegal kecuali mendapat persetujuan resmi dari pemerintah. Masyarakat juga dilarang memasang antene satelit yang bisa menangkap gelombang siaran TV maupun radio luar negeri.

Dalil Lord Acton ‘Power tends to corrup, absolut power corrups absolutely’ berlaku di Turkmenistan. Penguasa yang menjalankan pemerintahan secara mutlak telah tergoda untuk melakukan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Menurut Transparency Internasional’s Corruption Perception Indeks tahun 2020, Turkmenistan menempati urutan ke-165 dari seluruh negara di dunia, sejajar dengan negara-negara di Afrika seperti Congo, Guinea Bissau, Burundi serta Afghanistan di Asia. Dengan harga minyak bumi dan gas alam yang tidak kunjung membaik, ekonomi Turkmenistan terus menunjukkan grafik menurun, terjadi defisit neraca perdagangan sejak 2015 hingga beberapa tahun kedepannya. Ditambah dengan beban hutang negara yang terus bertambah, maka berakibat langsung dengan peningkatan angka pengangguran (mencapai 11%) serta makin banyaknya jumlah keluarga miskin. 

Sebagaimana bangsa Asia Tengah lainnya, mayoritas warga Turkmenistan menganut agama Islam. Menurut laporan Pew Research Center tahun 2009, terdata 93% penduduk Turkmenistan beragana Islam, 6% beragama Kristen Orthodox dan 1% sisanya lain-lain. Namun lembaga akademi Rusia mengidentifikasi telah terjadi proses sinkretisme pada ajaran Islam yang berkembang di Turkmenistan dengan adanya pengaruh unsur kepercayaan lokal sebelum datangnya Islam Turkic. Dengan adanya pelarangan menjalankan agama selama hampir 70 tahun di bawah kekuasaan rezim komunis Uni Soviet, maka kehidupan beragama di Turkmenistan masih sebatas identitas, namun secara perlahan masyarakat Turkmen mulai menjalankan ajaran Islam sesuai tuntunan para mufti dan alim ulama di sana. 

Etnis Turkmen yang serumpun dengan bangsa Turki dari keturunan bangsa Oghuz telah menghasilkan muda-mudi yang gagah dan jelita. Tidak sedikit remaja terutama pemuda asing ingin memperistri wanita Turkmen, namun sering terbentur dengan persyaratan yang berat. Sejak menjadi negara merdeka tahun 1991, orang asing yang hendak mempersunting gadis Turkmen harus menyediakan dana deposit sebesar US$ 50 ribu untuk mendapatkan ijin menikah. Uang tersebut disiapkan sebagai jaminan dalam memproteksi pihak wanita apabila terjadi sesuatu dalam perkawinan mereka. Calon mempelai laki-laki juga diwajibkan tinggal di Turkmenistan minimal selama setahun sebelum melangsungkan pernikahan. Atas keluhan warga Turkmenistan sendiri serta desakan internasional, akhirnya pada pertengahan tahun 2005, Presiden Saparmurat Niyazov menghapus ketentuan uang deposit. Meskipun demikian, sesuai adat setempat, calon mempelai pria tetap harus menyediakan mahar (mas kawin) senilai 36 domba, 36 setelan baju, 4 box vodka/anggur dan uang tunai sebesar US$ 600. 

Satu perbedaan mencolok antara bangsa Turkmen dengan sesama bangsa di negara-negara Stan Asia Tengah adalah pandangan mereka tentang kuda. Bangsa di 4 (empat) negara Asia Tengah, yaitu Kazakstan, Kirgizstan, Tajikistan, dan Uzbekistan ditambah dengan Azerbaijan menggemari daging kuda. Warga Kazakhstan bahkan menganggap daging kuda merupakan daging terlezat yang mengandung banyak energi, dan menjadi makanan pokok di Musim Dingin. Sebaliknya di Turkmenistan daging kuda dilarang untuk dikonsumsi. Bagi bangsa Turkmen, kuda bukan untuk disantap sebagai makanan tetapi harus difungsikan sesuai peruntukannya, yaitu untuk keperluan balapan, pertunjukan/hiburan, sebagai tunggangan dalam perjalanan, dan (dahulu) digunakan dalam medan perang. Demikian tinggi hormatnya terhadap peran penting kuda, sehingga foto satwa kuda diletakkan di tengah lambang negara Turkmenistan, juga dibuatkan patung kuda setinggi 40m di tengah ibukota Asghabat. Bangsa Turkmen menganggap kuda sebagai simbol keperkasaan dan kekuatan. Semakin banyak seseorang mengoleksi kuda, maka semakin terhormatlah orang tersebut. Ketika saya menanyakan hal ini kepada tuan rumah dalam kunjungan kerja di Asghabat sekitar tahun 2008, jawabannya bahwa kuda telah berjasa besar kepada umat manusia terutama sebagai alat transportasi dan pertemanan, maka kenapa harus dipotong untuk dimakan dagingnya.

Jepretan: Kawah berapi 'Gerbang Neraka' Darvaza, Turkmenistan

Posting Komentar

0 Komentar