Ticker

6/recent/ticker-posts

Mengunjungi Kota Kuching, Sarawak, Malaysia yang ada di Utara Pulau Kalimantan

JAKARTA (24/7) || grhaputih.com

Kuching adalah ibu kota ketiga Serawak pada tahun 1827 pada masa pemerintahan Kekaisaran Brunei. Pada tahun 1841, Kuching menjadi ibu kota Serawak setelah Serawak diserahkan ke James Brooke untuk membantu Kerajaan Brunei dalam menghancurkan pemberontakan. 

Kota ini terus mendapat perhatian dan pengembangan selama pemerintahan Charles Brooke seperti pembangunan sistem sanitasi, rumah sakit, penjara, benteng, dan bazar. Pada tahun 1941, pemerintahan Brooke memiliki Perayaan Centenary di Kuching. 

Selama Perang Dunia II, Kuching diduduki oleh tentara Jepang dari tahun 1942 sampai 1945. Pemerintah Jepang mendirikan kamp Batu Lintang dekat Kuching untuk menahan tawanan perang dan interniran sipil. Setelah perang, kota ini tetap masih bertahan utuh. 

Namun, Raja terakhir Serawak, Sir Charles Vyner Brooke memutuskan untuk menyerahkan Serawak sebagai bagian dari Mahkota Inggris pada tahun 1946. Kuching tetap menjadi ibu kota selama periode Mahkota Inggris. 

Setelah pembentukan Malaysia pada tahun 1963, Kuching juga tetap dikekalkan menjadi ibu kota dan mendapat status resmi kota pada tahun 1988. Sejak itu, kota Kuching dibagi menjadi dua wilayah administratif yang dikelola oleh dua pemerintah daerah yang terpisah. 

Pusat administrasi pemerintahan negara Serawak terletak di Wisma Bapa Malaysia, Kuching.

Kuching adalah tujuan pangan utama bagi wisatawan dan merupakan pintu gerbang utama bagi wisatawan mengunjungi Serawak dan Kalimantan. 

Taman Nasional Lahan Basah Kuching terletak sekitar 30 kilometer (19 mi) dari kota dan terdapat banyak tempat wisata lainnya di dalam dan sekitar Kuching seperti Taman Nasional Bako, Pusat Satwa Liar Semenggoh, Festival Musik Hutan Hujan Dunia (RWMF), bangunan legislatif Serawak, Astana, Fort Margherita, Museum Kucing, dan Museum Serawak. 

Kota ini telah menjadi salah satu pusat industri dan komersial utama di Malaysia Timur.

Dari Indonesia paling mudah dijangkai dengan pesawat terbang dari Pontianak, yang jaraknya sekitar 350 KM, tidak sampai 1 jam di udara.

Saat menginap di Hotel Merdeka Palace and Suite bintang 4 Kuching, hotel lama yang masih terjaga dengan baik, suasana Inggris jadoel
Masih terasa. Sore hari, di halaman depan hotel yang terdapat lapangan luas/alun-alun, banyak warga berkumpul
Menikmati suasana sore? Sementara anak-anak berlarian meniup kapas-kapas yang beterbangan dari pohon-pohom kapas yang ditanam sejak dulu. Sementara di sebrang hotel terdapat mall yang tidak begitu ramai pengunjung.

Sebenarnya asal nama Kuching adalah dari bahasa Mandarin, “Ku” artinya lama/tua dan “Ching” artinya sumur. Cuma karena sekarang orang menganggapnya lebih populer sebagai Kuching yang artinya kucing, makan dibeberapa tempat termasuk di persimpangan jalan utama, dibangun patung-patung kucing yang indah.(gp/tim) 

Posting Komentar

0 Komentar