Ticker

6/recent/ticker-posts

MENJADI SINOLOG DAN MENULIS

Kolom Agung Puspito, SS

MENJADI SINOLOG DAN MENULIS

Kita jarang mengakui diri sendiri sebagai seorang sinolog --menurut satu definisi berarti ‘ahli studi Cina’, dan membiarkan istilah sinologi bertengger di nama institusi perkumpulan mahasiswa di fakultas Sastra/FIB di UI, yaitu IMSI.

Padahal, menurut saya kata “ahli” (dari bhs Arab aĥl ) tak ada yang salah, ia merujuk pada pengertian ‘keluarga’, ‘yang akrab’, dan ‘yang berkecimpung di bidangnya’. Bagi saya, kita yang pernah belajar studi Cina dan tetap berminat untuk terus mempelajarinya secara formal maupun informal, baik sebagai lulusan program pascasarjana maupun S1 maupun diploma, adalah seorang sinolog.

Memang, banyak lulusan studi Cina merasa “gak nyambung” antara kuliah yang diambil dan pekerjaan yang dijalani kini. Bahkan, sewaktu masih kuliah di kampus Rawamangun, beberapa senior IMSI telah menakut-nakuti dengan mengatakan “madesu ... madesu” (masa depan suram).

Itu memang masalah pekerjaan, yang memang tidak harus sama dengan bidang studi semasa kuliah. Saya kira, itu gunanya wadah sosial seperti Pengyou ini, yang mengingatkan kita bahwa kita pernah belajar di alam yang sama, dan syukur-syukur bisa saling berbagi job, hobi, maupun santapan kulineran.

“Separuh Napas”

Alhamdulillah, sang waktu tidak terlalu lama membiarkanku mencari-cari hubungan antara bidang studi dan lapangan pekerjaan, meskipun harus menganggur dulu setahun pasca-wisuda sarjana di Balairung UI. Saya diajak seorang teman untuk melamar jadi reporter di sebuah majalah bulanan psikologi populer.

Sedang asyiknya bekerja (sambil belajar psikologi), kami ternyata harus keluar karena majalahnya bubar, dan sejak itu saya belajar bahwa keberadaan media massa amat tidak langgeng antara lain karena masalah-masalah kebijakan politik penguasa, menabrak larangan “SARA” sebagaimana diklaim negara, dan keberlangsungan modal dari pihak pemodal maupun pengelola modal. Saya menganggur lagi.

Ketika seorang kawan di Sastra Cina UI menginformasikan kepadaku adanya majalah baru yang mencari wartawan yang bisa berbahasa bahasa Cina, dan menyuruhku mendaftarkan diri, aku menyanggupinya dan tidak menyangka bahwa aku akan bekerja di sebuah media yang mengantarku menuju gebang ke arah separuh hidupku; atau menurut lirik Dewa 19, “Separuh napasku”.

Majalah berita mingguan ini (MBM) memang tidak terbit untuk selamanya. Bahkan saya telah lebih dulu keluar dari sana sebelum majalah bubar. Saya keluar duluan, dan seingatku hanya ada dua media yang saya berhenti bekerja dengan sukarela, yaitu MBM SINAR dan harian berbahasa Inggris The Indonesia Times. Media lainnya saya terpaksa berhenti karena memang tutup, karena perusahaan tak mampu meneruskan keberlangsungannya di bidang finansial.

Bagaimana pun, saya patut bersyukur sebab MBM SINAR ini jelas merupakan jawaban bagi terhubungnya kuliah dan lapangan kerja. Saya sendiri diterima jadi reporter tampaknya bukan melulu lantaran saya fresh graduated, tapi karena pengalaman kerja jadi wartawan di media bulanan sebelumnya.

Selain untuk pembaca nasional di Indonesia, SINAR bertujuan untuk membidik pangsa pembaca tertentu, yaitu orang Cina.

Saya pun terlibat banyak dalam liputan-liputannya, termasuk peliputan investigatif mengenai organisasi transnasional Darul Arqam yang jaringan organisasi maupun bisnisnya mencapai Cina Selatan. Majalah ini memang memberi kesempatan saya meliput sampai ke luar negeri, yaitu negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Untuk menghemat biaya, saya pernah memilih untuk menginap di sebuah hotel murahan di Lorong Geylang, Singapura. Itu hotel yang ternyata berada dekat dengan sebuah lokasi red light.

Kuingat, majalah kami yang pertama kali mengungkap fenomena Konfucianisme ketika Khonghucu telah diakui sebagai salah satu agama resmi di Indonesia. Saya bertemu dengan para pengurus Matakin (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) di markasnya di bilangan Pejompongan, dan mengusulkan cover berwarna biru muda untuk cover yang menampilkan laporan utama Khonghucu, warna yang kulihat di markas Matakin.

Saya meyukai lokasi kantor redaksi SINAR di kawasan yang tergolong pecinan di Jakarta. Itu lokasi yang kugunakan untuk mengenali kehidupan “segmen pembaca” lebih dekat. Ketika waktu makan siang atau makan malam saya gunakan untuk berjalan-jalan di daerah yang termasuk padat, dihuni warga keturunan Cina dari berbagai profesi, dari pedagang, seniman, sampai pelajar berseragam sekolah.

Menurut penelitian, antara lain oleh alumna Sastra Cina Melly G Tan, orang Cina memang dikondisikan menjadi pedagang atau bergerak di bidang bisnis belaka oleh pemerintah Orde Baru.

Kami sebelumnya menyangka, keterkaitannya dengan bisnis membuat orang Cina menjadi materialistis, dan memandang kekayaan sebagai satu-satunya yang berarti. Namun, hal itu perlu direvisi dengan adanya liputan mengenai orang Cina yang bergerak di bidang intelektual, misalnya tokoh Enin Supriyanto, seorang Cina Lombok yang berkuliah di ITB dan pernah dipenjara di Nusa Kambangan karena menentang kebijakan pemerintah.

Juga, liputan mengenai Cina Benteng di Tangerang dan wawancara dengan pejabat perwakilan dagang Taiwan mengenai amoy-amoy Singkawang yang diperistri pria Taiwan yang menunjukkan, tak selamanya orang Cina jumbuh dengan kekayaan materi.

Itu romantisme mengenai suatu masa ketika saya bagaikan seorang antropolog yang meneliti dengan pendekatan participatory, ketika sang antropolog menjadi bagian dari obyek penelitian. Untungnya, saya tidak sampai menjadi seperti dituturkan rekanku dari antropopogi FISIP UI mengenai seorang wanita antropolog bule yang saking mau mempraktikkan metode partisipatori sampai mau menikah dengan seorang kepala suku Papua untuk meneliti kehidupannya langsung.

Toh, saya hampir-hampir meniadakan jarak antara jurnalis dan obyek jurnalistik ketika saya ikut melihat dari dekat fragmen kehidupan malam sambil menemani rekan redaksi duduk-duduk di sebuah diskotik. Dan ketika meliput kisah persaingan bisnis judi antara Tan Hok Liang (Anton Medan) dan Hong Lie.

Atau ketika berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan bersama rekan reporter sambil melihat-lihat ciptaan Allah paling indah, bagiku, cewek cokin.

Astaghfirullah. Saya mungkin akan terperosok terlalu jauh jika saja Allah tidak mengulurkan tangan-Nya kepadaku. Menjelang keluar dari SINAR, saya meliput pada suatu petang dengan agak ogah-ogahan ketika kantor menurutku mulai tidak lagi konsisten soal segmen pembaca, soal manajemen keuangannya, dan soal kebijakan para pemimpin perusahaan yang sesungguhnya mewakili konglomerat nasional.

Acara yang berlangsung di Masjid Istiqlal itu menghadirkan pameran budaya tarkait kebudayaan bernapaskan Islam dari seluruh penjuru nusantara. Liputan membimbingku ke arah stand Loloan, sebuah komunitas muslim di Pulau Bali.

Saya menemui penjaga stand, seorang perempuan berjilbab yang sama sekali bukan orang Loloan, Negara, atau Bali. Dia justru gadis Cina asal Palembang yang membuatku sadar bahwa inilah “separuh napasku” yang saya cari-cari sebagai petunjuk Tuhan untuk diikuti.

Mengenai jurnalisme, setelah berkali-kali pindah tempat bekerja di jagat jurnalistik, seperti kusebutkan karena “kapalnya karam” --kecuali dua media tadi, SINAR dan The Indonesia Times, saya akhirnya menjadi jurnalis lepas (freelance) dan kontributor untuk beberapa media, yang satu per satu juga berjatuhan. Itu termasuk kontributor majalah bulanan Khalifah ketika saya dipercaya memegang satu rubrik khusus Cina Muslim.

Maka, Menulislah

Menulistentang negeri-negeri lain di luar wilayah tempat Anda menjadi warga negara, apalagi bila Anda belum pernah ke sana, memang bukan persoalan mudah.

Betapa pun besarnya curiositysaya terhadap negara-negara itu, ada semacam beban psikis untuk merespon komentar yang mungkin terlontar, “Mengapa menulis yang jauh-jauh yang belum pernah kaukunjungi, sedangkan yang dekat dengan kamu saja belum tentu kauketahui?”.

Saya belum pernah mengunjungi negeri-negeri lain di muka bumi kecuali ke beberapa daerah di kepulauan Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara. Sebagai sinolog, saya juga belum pernah ke Cina, sebagaimana teman-teman dari komunitas mahasiswa Himaja yang menekuni Japanologi tapi tidak semua pernah pergi ke Jepang.

Namun, ada semacam dorongan yang agaknya lebih besar daripada sekadar dorongan eksperiential yang membuatku yakin bahwa saya tak harus pergi ke suatu tempat untuk mengetahui hal-hal yang perlu diketahui mengenai tempat itu.

Anda kan tidak harus terbang ke bulan untuk mengetahui materi apa saja yang ada di satelit bumi tersebut. Orang lain, termasuk astronot dan kosmonot, telah membantu melakukannya untuk Anda, bersama-sama para ilmuwan terkait. Anda tak harus mengalami kematian untuk mengetahui kehidupan mana yang lebih baik dalam kehidupan sesudah mati, sorga atau neraka.

Tidak usah jauh-jauh. Begitu keluar rumah, Anda akan berjumpa dengan kehidupan yang berbeda dengan kehidupan di rumah Anda beserta kebudayaan yang lazimnya diperlihatkan keluarga Anda. Tapi, manusia dikaruniai kemampuan berpikir abstrak untuk menghadirkan hal-hal yang konkret tanpa harus mengindranya, atau sebaliknya, menghadirkan hal-hal abstrak dari realitas yang konkret.

Dengan demikian, wahai sinolog, menulislah selagi roh masih bersemayam di dalam dada. Menulislah tentang apa saja. Kita hanya berhadapan dengan obyek tulisan yang berbeda-beda satu sama lain tapi sesungguhnya tidak saling terpisahkan.

Menulis adalah perpanjangan ingatan manusia sebagaimana disebutkan dalam pepatah klasik Cina, “Tinta yang pucat lebih baik daripada ingatan yang luas”.

-----

(ap)

Posting Komentar

0 Komentar