Ticker

6/recent/ticker-posts

Oh Buzzer

Kolom Najib :
“Oh Buzzer …”

Ketika buzzer dilawan buzzer, mereka lalu teriak buzzeRp.. maksud nya buzzer bayaran pemerintah.. 

Emang yg berhak punya buzzer hanya mereka? Buzzer dikesankan négatif. Sekarang memang zaman medsos. Buzzer jadi ujung tombak pemberitaan, layaknya wartawan di era koran dan media konvensional dulu. Eh, sekarang masih ada kan media konvensional kayak koran, radio, tv dll itu.. nah kurang lebih begitulah. Karena  era demokratisasi kita melompati zaman saat demokrasi belum matang,jadinya kita ini serba gagap. Antara pemerintah dan oposisi secara parlementer maupun secara sosial serba tidak jelas. 

Bandingkan dengan Jepang. Disana ada 3 koran utama yg berhaluan kiri (Asahi Shimbun), kanan (Yomiuri Shimbun), dan tengah (Mainichi Shimbun). Betul korannya independen tapi secara aspirasi mereka selaras dengan parpol yg ada.  Intinya, jelas arahnya.. 

Disini serba tidak jelas. Hari ini berkoalisi dengan pemerintah, besok bisa nyebrang. Dan sebaliknya. Dengan begitu mudahnya. Dengan alasan yg sangat pragmatis. 

Terkait kasus IDI, ini akibat pelemahan civil society di era otoritarianisme orba. Begitu rezimnya selesai, muncul lembaga sipil yg sangat super. Diantaranya IDI dan MUI tadi. Yg lepas dari sentuhan reformasi. Kalau organisasi profesi lain kan sudah banyak yg mereformasi diri seperti wartawan yg tidak lagi menganggap PWI sebagai wadah tunggal organisasi mereka sejak sebelum reformasi. Tapi ini juga butuh perjuangan yg tidak mudah. Teman2 yg tergabung di AJI dulu banyak yg dikejar Intel, beberapa malah masuk penjara orba.. 

Reformasi menyisakan residu. Kita mengira hanya rezim pemerintahan yg bisa otoriter. Ternyata lembaga sipil, bahkan LSM juga banyak yg otoriter hari ini. Dan selalu nama rakyat dan demokrasi yg dicatut untuk kepentingan mereka. 

Sangat memalukan. Di saat institusi militer saja mau mereformasi diri, justru lembaga sipil banyak yg enggan direformasi, malah menjelma menjadi diktator baru yg jauh dari prinsip demokrasi.. 

Jadi bisa difahami mengapa Menkes kok bukan dokter. Karena yg bisa menyembuhkan penyakitnya dokter itu insinyur... IDI kan ibarat orang sakit. Ya gak,,??

Posting Komentar

0 Komentar