Ticker

6/recent/ticker-posts

Almisbat Bersinergi dengan Grha Putih Tour De’ Warteg

JAKARTA (12/8) || grhaputih.com

Aliansi Masyarakat Sipil Untuk Indonesia Hebat (Almisbat) bersama Para alumni universitas negeri dan swasta se-Indonesia yang membentuk kelompok relawan  "Grha Putih", yang pada tanggal 1 Mei 2023 telah mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden (capres) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 di Hotel Sahid, Jakarta, bersinergi untuk melakukan bakti sosial di pinggiran Jabodetabek, dengan memanfaatkan media warteg-warteg.

Muhamad Rizal Sally yang akrab dipanggil Bang Ical dari Almisbat, yang juga adalah Ketua Bidang Sosial Grha Putih, menjelaskan, “Program ini dilakukan setelah mempelajari potensi Warung tegal (warteg) yang merupakan salah satu jenis usaha gastronomi yang sangat mendukung aktifitas harian masyarakat menengah ke bawah. “

A. Najib, kepala bidang kerjasama Eksternal
Menjelaskan “Sejarahnya, warteg berasal dari Kabupaten Tegal atau di pusat Kota Slawi yang menyediakan makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Nama ini cenderung menjadi istilah umum untuk warung makan kelas menengah ke bawah di pinggir jalan, baik yang berada di Kabupaten Tegal maupun di tempat lain, baik yang dikelola oleh orang asal Tegal maupun dari daerah lain.”

“Warung tegal pada awalnya banyak dikelola oleh masyarakat dari dua desa di Kabupaten Tegal. Mereka mengelola warung tegal secara bergiliran (antar keluarga dalam satu ikatan famili) setiap 3 s/d 4 bulan. Yang tidak mendapat giliran mengelola warung biasanya bertani di kampung halamannya.” tambahnya,

Pengelola warung tegal di Jakarta yang asli orang Tegal biasanya tergabung dalam Koperasi Warung Tegal, yang populer dengan singkatan Kowarteg.

Jika Anda pergi ke warteg di kawasan Jakarta dan memesan nasi ayam, minimal Anda harus merogoh kocek Rp17.000 atau lebih. Bandingkan dengan 10 tahun lalu, Anda hanya perlu mengeluarkan sekitar Rp11.500.
Atau, kalau Anda jeli, perhatikan porsinya. Apakah berkurang?
"Mungkin kalau dulu nasi, tempe orek, telur, dan sayur [seharga] Rp10.000 dapat. Kalau sekarang mungkin sekitar Rp12.000 atau Rp13.000. Bahkan bisa Rp13.000 atau Rp14.000.

Pada dasarnya, cukup banyak versi mengenai sejarah dari warteg. Tetapi, sebuah versi popular menyebut bila warteg mulai ditemukan di tahun 1950 hingga 1960-an. Pada masa tersebut, Soekarno mencanangkan untuk melakukan pembangunan besar-besaran di daerah Ibukota Jakarta. 

Seperti yang kita ketahui, warteg berasal dari daerah Tegal. Ketika pembangunan besar-besaran terjadi di Jakarta, muncul tokoh dengan nama Mbah Bergas, ia yang pertama kali memprovokasi warga dari Tegal, terutama dari Desa Krandon, Desa Sidapurna, dan Desa Sidokaton untuk pergi ke Jakarta. 

Adanya fenomena migrasi ini akhirnya dimanfaatkan oleh warga Tegal dengan cara membawa istri serta anak mereka untuk menjual nasi ponggal yang murah untuk makan para pekerja bangunan. Semakin lama kepopuleran rumah makan warteg semakin bertambah. 

Dari awalnya yang hanya berjualan keliling, mereka akhirnya mendirikan warung 3×3 meter dekat dengan lokasi proyek, serta menu beragam dan disukai warga Jakarta. Semakin lama, fenomena ini menjadi semakin berkembang sampai di seluruh penjuru Indonesia. 

Sampai sekarang, warteg terkenal sebagai sebuah UMKM yang berjasa untuk memberi asupan makanan yang layak pada karyawan, mahasiswa, buruh dan berbagai lapisan masyarakat.

Sebaran geografis warteg pun bukan hanya di Jakarta saja, tapi sudah merambah kota kota lain di Jabar dan Banten, bahkan beberapa wilayah di Jateng. Tapi jika kita jeli mengamati, tidak ada warteg di timur kota Tegal. Kata teman yang asli Tegal, dalam hal merantau, orang Tegal itu punya dua orientasi, mau cari ilmu atau cari duit. Jika cari ilmu, mereka ke timur,. Jika cari duit, mereka ke Barat. Maka bukan hanya membuka warteg atau jadi pedagang lain, profesi apapun bagi orang Tegal, merantaunya ya ke barat. Sebaliknya, banyak pesantren maupun sekolah di timur kota Tegal yang diisi orang Tegal. 
 
Warteg awalnya bersifat kolegial sosialistik. Seorang pemilik warung biasanya mengkader karyawannya yg biasanya dari saudara ataupun orang sekampungnya untuk bisa mandiri mendirikan warteg lain. Demikian seterusnya warteg berkembang dari anak buah yang turun lagi ke anak buah tanpa ikatan induk semang asalnya. Sekarang berkembang jadi kapitalistik dengan sistem franchisé seperti warteg mamoka, warteg subsidi, dll yang tentunya sudah menerapkan sistem manajemen modern. 

Dari latar belakang sejarah inilah maka tidak berlebihan jika warteg punya andil besar dalam sejarah pembangunan Republik kita ini. Peran besar ini kerap terabaikan karena warteg secara sosiologis dianggap marginal. Karena itu, dalam rangka menyambut pesta demokrasi mendatang, perlu kita bangkitkan lagi bagaimana peran besar warteg dalam pembangunan negeri ini dengan melibatkan mereka dalam ragam kegiatan partisipatif pemenangan capres yang juga berasal dan sedang menjadi gubernur kebanggaan Jawa Tengah, provinsi asal para komunitas warteg, baik pemilik maupun karyawan.

Sinergi Almisbat bersama Grha Putih akan dilakukan oleh anggota tim yang masing-masing terdiri dari dua orang, yang pada saat makan siang akan mengundang komunitas driver ojol
Sekitar untuk makan siang bersama yang dibayar oleh Tim Grha Putih tersebut,

Dan sesudah acara itu, tim akan memberikan kenang-kenangan kepada warteg terkait sebuah jam dinding dengan logo Almisbat dan Grha Putih, sebagai pengingat.

Tim juga akan memberi nomer kontaknya bila dilain waktu, warteg tersebut ingin mengadakan kembali, acara serupa.

Ketum Grha Putih, Ahmad Akbar, menutup wawancara dengan melengkapi informasi “acara ini dilakukan dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan RI, selama bulan Agustus 2023, sebagai wujud  syukur kami atas anugerah yang kemerdekaan yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT, sehingga sebagai anak bangsa kami berkewajiban untuk
Mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat.”



(gp/tim)



Posting Komentar

0 Komentar