Ticker

6/recent/ticker-posts

ISTANA

JAKARTA (27/08) || grhaputih.com
 
Mumpung masih bulan Agustus, saya mau bahas istana yang kemarin sempat jadi bahan ghibah oleh beberapa orang. Siapa lagi kalau bukan yang selama ini selalu teriak "Salawi", salah Jokowi. Apapun yang dilakukan oleh Presiden ini harus salah dan disalahkan. 

Bagi saya, kritik itu mutlak diperlukan, apalagi dalam demokrasi. Tapi masalahnya, yang namanya kritik itu mengandung dua unsur utama, substansi dan diksi. Apa yang menjadi bahan kritikan, dan bagaimana pilihan kata penyampaian kritik itu. Disinilah letak bobot sebuah kritik. Jika secara substansial ngawur dan pemilihan diksinya sembarangan, maka itu bukan kritik, tapi nyinyir. 

Syukurlah kita punya presiden kelewat baik. Meski banyak nyinyir padanya, tapi sejauh ini belum pernah ada inisiatif pribadi Presiden untuk sekedar memperkarakannya di meja hijau. Andai zaman orde yang lalu, orang orang nyinyir itu berani gak ya? 

Terakhir ini soal istana yang baru menyelenggarakan hajat tahunan, upacara kemerdekaan. Terus terang, terutama dalam dua tahun terakhir ini saya cukup surprise dengan tujuhbelasan di istana yang saya lihat ada nuansa berbeda dari presiden presiden sebelumnya. Apa itu? Hiburan rakyat dan nuansa adat. Presiden dan para menterinya berpakaian adat Nusantara. Dan melebur bersama. Bergembira dan menari. Tahun lalu ada sosok penyanyi yang tidak dikenal secara luas, Farel Prayoga, tiba tiba mengguncang istana dan jagat media lewat lagu "Ojo Dibandingke", jangan dibandingkan. Sontak, Farel Prayoga yang tadinya bukan siapa siapa, langsung jadi selebriti. Kehidupan ekonomi keluarga nya pun ikut terangkat. Berkah istana,? Ya itu terserah anda. 

Tahun ini pun tetap sama meski tidak melejitkan sosok yang bukan siapa-siapa menjadi seleb seperti Farel Prayoga di tahun lalu. Tapi sosok Putri Aryani adalah fenomena tersendiri dalam jagat hiburan di negeri ini. Sosok tuna netra dengan dukungan kegigihan keluarganya yang tergolong "kalangan biasa", mampu menaklukkan panggung America Got Talent (AGT) dengan memukau para jurinya hingga Simon Cowell dengan haqqul yakin menekan tombol golden buzzer untuk Putri Aryani. Ini panggung Amerika Serikat, ibukota musik pop dunia. Wajar jika prestasi besar ini diapresiasi oleh presiden. 

Tapi kemudian ada yang tadi itu. Kelompok Salawi. Yang menuduh istana tidak menghargai sakralitas proklamasi. Dalam sebuah obrolan di stasiun TV, pihak istana sudah menjelaskan yang namanya upacara peringatan HUT RI itu sudah ada SOP nya yang berlaku secara baku dari masa ke masa. Dan semua itu sudah dilewati sesuai prosedur. Tidak ada yang dilanggar. Acara setelah nya itu kan panggung hiburan. Penjelasan ini masih saja belum memuaskan kritikus model Salawi ini. Untunglah ada Gus Nusron Wahid yang mengibaratkan acara tujuhbelasan ini dengan pernikahan. Betul, pernikahan itu sakral, tapi kan ada unsur pesta gembiranya juga. Dalam agama Islam, ada akad ijab kabul, lalu disunnahkan walimah. Persoalannya, apakah setelah akad itu langsung walimahan seperti yang terjadi di istana, atau menunggu hari lain saja. Itu hanya soal pilihan. 

Tuduhan bahwa presiden mengubah istana sesuai selera nya memang terlalu mengada ada. Sepertinya orang orang ini ingin istana itu tetap angker yang tidak aksesibel oleh rakyat kebanyakan. Seperti selera presiden mereka dulu. 

Istana berasal dari kata Sansekerta, sthana yang artinya tempat para raja. Dari sthana, muncuk lagi istilah Astana yang artinya juga tempat. Tempat tinggal lain bisa disebut Grha, wisma, omah, rumah. Yang paling penting, Istana ataupun tempat tinggal lainnya selalu mencerminkan penghuninya. Kali ini penghuninya adalah orang yang merasa diri sebagai "pelayan rakyat", maka pesta kemerdekaan pun cenderung merakyat, bukan selera aristokrat yang canggung. Canggung karena sejatinya bukan aristokrat tapi ingin dicitrakan sebagai aristokrat. Ini memang sangat erat dengan cara pandang seseorang pada jabatan. Jika jabatan dipandang sebagai kekuasaan, maka ia akan memaksakan diri tampil ningrat. Dan jika jabatan adalah pengabdian, maka rakyat akan dikedepankan. Termasuk pilihan hiburan di acara paling penting di negara ini. Hari kemerdekaan.

Dan tahun ini adalah tahun terakhir Jokowi mendiami istana. Tahun depan kita akan memilih presiden baru. Dari semua capres, sudah terlihat "siapa yang ingin merebut kekuasaan" dan "siapa yang ingin mengabdi pada rakyat". Terlihat seperti jargon sederhana. Tapi jika ditelaah maknanya, perbedaan keduanya bagai bumi langit. Antara yang ingin menjadikan rakyat sebagai hambanya dan rakyat sebagai tuannya. 

Sebagai rakyat, tentu kita ingin menjadi tuan sebagai manifestasi civil supremacy. Tapi dalam demokrasi ini, mudah saja kaum berkepentingan membelokkan arah dan menginjak prinsip civil supremacy tadi sehingga negara ini hanya menjadi negara pseudo demokrasi seperti masa pra reformasi. Jangan membalikkan sejarah ke masa kelam lagi. 

Mari terus kita jaga wajah istana kita agar tetap merakyat. Semarak penuh warna warni Nusantara kita. Dan itu sangat tergantung pada pilihan kita siapa yang akan jadi presiden mendatang. Siapa lagi kalau bukan Capres yang sudah punya catatan dan bukti sebagai pelayan rakyat.(gp/tim)

Posting Komentar

0 Komentar