Ticker

6/recent/ticker-posts

Kolom A. Najib

JAKARTA (13/08) || grhaputih.com

Kolom A. Najib
Capres ketiga resmi sudah dengan dukungan koalisi partai Gerindra, Golkar, PKB dan PAN. Dengan koalisi gendut begini, tentu sangat mudah untuk hanya sekedar lolos Presidential Threshold (PT). 

Tapi bisakah lolos menjadi presiden terpilih? Ini yang harus diuji. Pasalnya, di Indonesia, koalisi itu sangat cair. Tidak ada tujuan ideologis, hanya kepentingan sesaat yang sangat pragmatis sifatnya. Ini terlihat bagaimana Nasdem yang masih dalam koalisi pemerintahan dengan begitu mudahnya mengumumkan capres yang kontra pemerintah dengan mengayomi parpol oposisi dalam rangka pencapresan ini. 

Bukan cuma antar parpol. Perorangan anggota parpol juga bisa dengan seenak udel berganti parpol di tengah jalan. Misalnya saja, dulu Dede Yusuf saat maju jadi calon gubernur Jabar dia diusung PAN, tapi di tengah jabatannya sebagai gubernur dia pindah parpol, lari ke Demokrat. Dede Yusuf tidak sendiri. Yang model begini ini banyak. 

Saya tidak tahu persis bagaimana AD/ART parpol maupun undang undang politik. Tapi sepertinya tidak ada aturan soal keanggotaan parpol. Spirit "demokrasi" membiarkan orang bisa berganti parpol seenak udel e dewe. Gak bahaya tah? 

Sejauh tidak ada aturannya, memang tidak ada aturan yang dilanggar soal tindakan lompat parpol. Tapi ini kan soal moral, soal fatsoen dalam politik. Apakah memang segitunya politik di negeri ini yang tanpa moral ataupun fatsoen? Dari sisi ini tentu sangat membahayakan. Politisi dengan mudahnya berganti parpol semaunya. Bisa jadi kemarin hijau, sekarang kuning, besok merah. Kok kayak cabe? Memang begitu. Politisi pantasnya memang disambal saja... 

Tapi fenomena kutu loncat politik itu umumnya terjadi di level elite parpolnya saja. Pada level grass root parpol umumnya sangat militan. Ini yang kemudian menyebabkan kesenjangan aspirasi antara grass root dan elite di parpol. Tidak jarang bahkan terjadi "kontra aspirasi" antara yang diatas dan yang dibawah. Ini sering terjadi di hajatan pilpres, pilkada bahkan pileg. Anggota parpol tidak sreg dengan nama yang diusung parpolnya. 

Apalagi ada fenomena yang disebut "political rental", parpol tidak lebih dari mobil rental yang disewa untuk mengantar penyewa nya ke tujuan tertentu. Karena untuk jadi kepala daerah ataupun wakil rakyat harus pakai parpol, maka disewalah parpol. Tidak perlu jadi akademisi ataupun pura pura ahli untuk melihat fenomena ini. Rakyat biasa pun tahu itu. Makanya switch voter jadi gejala umum dimana parpol tidak lagi aspiratif dengan grass root pendukung nya. Contoh nyata di Depok. Di kodya ini parlemennya dikuasai PDIP. Tapi penguasanya ternyata PKS selama empat periode. 

Sebetulnya yang terjadi dalam pilkada naupun pilpres bukan pertarungan antar koalisi. Tapi pertarungan antar figur yang didukung oleh uang dan militansi. Figur yang didukung oleh militansi tinggi bisa memenangkan figur yang didukung uang. Militansi rendah akan mudah dikalahkan oleh uang. 

Faktor militansi inilah yang harus kita pelihara. GP adalah figur kuat yang jika militansi pendukungnya tidak kita pelihara dan kita perluas basisnya, tidak mustahil bisa gagal ke RI 1. Dan peluang itu masih ada. Setiap ada tantangan, pasti ada peluang. 

Jadi meskipun Prabowo sudah secara resmi didukung koalisi sejumlah parpol gendut, masih terbuka lebar peluang GP untuk menang. Karena parpol bukan jaminan kemenangan. Tingkat kepercayaan publik terhadap parpol sangat rendah dibanding dengan lembaga politik maupun lembaga negara lainnya. Survey Indikator Politik menyebut hanya 56,6% responden yang puas pada parpol. Jauh tertinggal dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dipercaya oleh 93,3% responden. 

Artinya, secara rerata ada 43,4% grass root yang bisa digarap militansinya oleh para relawan untuk mendukung GP. Relawan non partisan tidak perlu kontra dengan parpol pendukung GP. Semua harus sinegis dan saling berbagi tugas. Jangan ada tabrakan di lapangan. Apalagi bersitegang dengan sesama pendukung GP. Kunci kemenangan politik hanya satu: militansi. Dan militansi yang kuat, ikatannya hanya satu: moral.

Tanpa militansi, percuma kita berkumpul untuk tujuan politik. Sejak sekarang kita tidak bisa lengah dan santai lagi. Genderang perang sudah ditabuh. Tidak ada pilihan kecuali: maju...!!!!!(gp/tim)

Posting Komentar

0 Komentar