Ticker

6/recent/ticker-posts

Kolom A. Najib

JAKARTA (21/08) || grhaputih.com

Jokowi Di Pilpres 2024

Apa yang membedakan pilpres 2024 dan pilpres pilpres sebelumnya di era reformasi? Jawabnya hanya satu kata yang merujuk satu nama; Jokowi. 

Faktor Jokowi inilah yang membuat distingsi pilpres 2024 dari pilpres sebelumnya. Hal ini terjadi karena beberapa faktor. 

Salah satunya adalah karena Jokowi telah benar benar bekerja keras untuk Indonesia. Ukuran fisiknya adalah infrastruktur dan suprastruktur yang jauh melampaui capaian presiden presiden sebelumnya. Bahkan rentang kurang dari 10 tahun ini, apa yang sudah dilakukan Jokowi jauh melampaui capaian 30 tahun lebih presiden orde baru. 

Terlalu panjang untuk menyebutkan daftar capaian selama masa kepresidenan Jokowi ini. Ini yang kemudian menjadi tonggak penting dalam sejarah Indonesia ke depan. Jika kita salah memilih presiden di 2024, bukan tidak mustahil capaian ini akan berbalik lagi menjadi nol. Maka kemudian dari sinilah muncul wacana di pilpres 2024 nanti mencari pengganti atau penerus Jokowi. 

Faktor lainnya adalah ucapan Jokowi sendiri yang menyatakan bahwa beliau tidak akan diam saja di pilpres 2024 nanti. Beliau akan ikut cawe cawe. 

Cawe cawe nya Jokowi pasti menjadi berita besar. Karena sebagai presiden yang akan mengakhiri masa tugasnya dan tidak bisa terpilih lagi secara konstitusional, tentu publik bertanya buat apa lagi sih masih harus cawe cawe? Disinilah uniknya presiden ini. Jokowi bisa diibaratkan sprinter dengan nafas panjang. Periode kedua masa kepresidenannya seharusnya dilalui dengan santai, tapi beliau masih ngebut gas poll bekerja untuk Indonesia. Dan beliau pun sadar bahwa infrastruktur dan sebagainya untuk mengejar ketinggalannya dari negara lain harus diteruskan, sehingga kata beliau, agar pembangunan tidak seperti pom bensin Pertamina yang harus mulai dari nol. 

Persoalannya, kemana arah dukungan Jokowi pada capres yang sudah ada ini? Untuk yang satu ini kita banyak dikejutkan langkah zig zag Jokowi soal arah dukungannya. Mengapa Jokowi menjadi faktor penting soal pilihan penggantinya? Karena selain prestasi yang sudah diakui publik, loyalis Jokowi juga banyak. Jokowi adalah lokomotif yang membawa banyak gerbong. Artinya, telunjuk Jokowi ini punya dampak elektoral signifikan pada capres saat ini. Jika si A yang diisyaratkan Jokowi sebagai penggantinya, maka kesitulah loyalis nya merapat. 

Sebetulnya tidak terlalu sulit membaca kemana arah dukungan Jokowi pada pilpres nanti. Masalahnya sekarang Jokowi adalah seorang presiden yang tidak bisa secara terbuka menunjukkan dukungan pribadinya pada capres tertentu. Perlu langkah cerdas untuk menunjukkan dukungannya. Karenanya tidak bisa sembarangan bertindak. Sebagai gambaran, baru mengatakan akan cawe cawe saja, pihak lawan sudah ribut seolah presiden akan jadi timses capres. Padahal, memang salah presiden jadi timses capres mendatang? Di negara yang paling demokrasi pun demikian. Lihat bagaimana cawe cawenya Obama ketika mendampingi Biden melawan Trump. Dalam berbagai bentuk, cawe cawe presiden dalam pilpres itu selalu ada. 

Jokowi sebagai presiden tentu harus mengayomi seluruh rakyat Indonesia. Termasuk para pendukung capres lain yang mungkin saja bukan dukungannya. Ini terlihat misalnya saat Surya Paloh yang parpolnya ikut koalisi pemerintahan Jokowi mengumumkan capres pilihannya dengan menggandeng parpol oposisi. Secara etika, harusnya Nasdem menarik diri dari kabinet Jokowi untuk bergabung bersama parpol oposisi dengan capresnya ini. Tapi ternyata Jokowi membiarkan saja tanpa mengambil tindakan berari untuk Nasdem. Jika ada menteri Nasdem yang diganti, itupun karena tersangkut korupsi yang nilainya sangat gigantik. Untuk soal korupsi ini, jangankan partai lain, partai sendiripun jika memang terbukti korupsi ya harus pecat, seperti kasus Mensos Juliari Batubara dulu. Meskipun satu parpol sama presiden, tetap harus ditindak. Johny G Platte diberhentikan karena kasus hukum. Menteri Nasdem yang lain masih aman aman saja. 

Presiden sebagai kepala pemerintahan yang membawahi kabinet yang banyak diisi oleh kader parpol pro pemerintah juga diuji ketika salah satu menterinya dengan didukung sejumlah parpol pendukung pemerintah mengumumkan koalisi untuk pencapresannya. Siapa lagi kalau bukah Menhan Prabowo dari Gerindra yang didukung Golkar, PKB dan PAN. 

Kali inipun Jokowi tetap legowo menerima situasi. Prabowo yang mengklaim sebagai penerus Jokowi pun dibiarkan saja oleh Jokowi. Bahkan bersama anaknya, Gibran, Jokowi terlihat seperti mendukung Prabowo. 

Namun manuver diatas adalah sikap Jokowi sebagai presiden yang kepala negara sekaligus kepela pemerintahan. Kenegarawanan Jokowi sedang diuji disini. Dan beliau harus menunjukkan itu. Sebagai presiden tentu tidak boleh bersikap partisan. Namun bagaimanapun, Jokowi tetap seorang warga yang punya hak pilih, juga seorang kader sebuah parpol yang mengantarkannya menduduki banyak jabatan penting hingga presiden. Dan saya masih sangat meyakini loyalitas Jokowi pada parpol yang membesarkannya. Saat parpolnya, PDIP mengumumkan capresnya, Jokowi juga ikut mendampingi para petinggi parpol ini bersama capres yang diumumkan, Ganjar Pranowo. 

Ganjar Pranowo dan Jokowi adalah tipikal kader parpol yang loyal. GP misalnya, tidak pernah tertarik rayuan partai lain untuk jadi capresnya, meskipun parpolnya sendiri saat itu belum memiliki kepastian untuk mencapreskan dirinya. 

Menjadi partisan saat menggunakan hak pilih itu wajar. Karena pemilu adalah ajang hajatan negara yang pesertanya adalah partai politik. Pada saat ini, semua kader parpol akan pulang ke rumah, parpolnya masing masing 

Dan Jokowi pasti akan pulang ke "rumah" nya untuk mendukung Ganjar Pranowo.(gp/tim)

Posting Komentar

0 Komentar