Ticker

6/recent/ticker-posts

Kolom A. Najib

JAKARTA (01/09) || grhaputih.com

BADUY

Seperti biasa, sejak Jokowi jadi presiden, pada tiap sidang umum MPR di bulan Agustus, presiden selalu mengenakan pakaian adat dari suku suku di Indonesia. Dan yang mengagetkan, pada tahun 2021 lalu, presiden mengenakan pakaian adat suku Baduy yang nampak sangat sederhana. Baduy, suku pedalaman wilayah Banten yang tetap konsisten memelihara adat dengan cara hidup yang penuh kesederhanaan. 

Masyarakat yang disebut Baduy itu sendiri mengindentifikasikan diri sebagai "urang Kanekes" atau orang Kanekes, karena tinggal du wilayah yang disebut kanekes Lebak, Banten. Sangat mungkin sebutan Baduy berasal dari orang Belanda saat era kolonialisme dulu ketika melihat urang Kanekes ini bepergian ke Batavia untuk berjualan hasil madu. Lantas orang Belanda beranggapan mereka sama dengan Baduy di Arab yang hidupnya mengembara dan berpindah pindah alias nomaden. 

Tentu saja anggapan itu tidak benar. Karena Baduy yang dialamatkan pada "urang Kanekes" itu bukan suku nomad. Justru sebaliknya, mereka sangat settle. Mereka keluar hanya untuk menjual hasil bumi maupun kerajinannya untuk ditukar komoditi primer yang tidak bisa mereka hasilkan sendiri seperti garam, ikan asin, tembakau, dll. 

Settle nya mereka ini terkait dengan ajaran dan pandangan hidup mereka bahwa mereka dibebani amanat untuk menjaga kelestarian alam yang mereka tinggali. Dan ini sangat terkait dengan asal muasal suku Baduy ini. 

Banyak teori yang menyebutkan asal usul suku yang merupakan sub suku Sunda ini. Suku yang bermukim di kaki Gunung Kendeng, desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Lebak ini meyakini mereka adalah keturunan langsung dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa yang diturunkan dari langit. Peran dari Batara Cikal adalah mengatur keseimbangan bumi dan langit. Sekilas terkesan Batara Cikal ini seperti kisah Nabi Adam dalam agama samawi. Terkait dengan kepercayaan ini, orang Baduy menganggap tanah Kanekes adalah "tanah suci" yang kelestariannya harus dijaga. 

Namun versi lain menurut beberapa sejarawan, tersebutlah di kawasan itu di zaman jauh sebelum adanya Kesultanan Banten dan Kerajaan Pajajaran, ada raja bernama Rakeyan Darmasiska yang memerintahkan orang Baduy untuk memelihara kabuyutan, tempat pemujaan arwah nenek moyang, dan menjadikan tempat itu sebagai Mandala, kawasan suci. 

Adapun kabuyutan yang katanya terdapat arca Domas itu sampai hari ini belum banyak yang tahu dimana persisnya. Konon sangat rahasia hingga hanya orang tertentu dari orang Baduy dalam sendiri yang tahu. 

Sampai saat ini, belum ada teori yang pasti tentang asal usul Baduy ini. Namun satu hal yang pasti bahwa Baduy ini bukan suku nomad, justru sebaliknya, suku yang sangat terikat dengan tempat bumi tempat mereka tinggal. 

Meskipun mereka mengasingkan diri dari modernisasi, sebetulnya mereka tidak terasing dari dunia sekitarnya. Mereka masih berkomunikasi dan bertransaksi dengan dunia luar. Mereka hanya konsisten memegang teguh ajaran leluhurnya untuk tetap hidup dalam kesederhanaan dan selaras dengan alam. Prinsip kesederhanaan diungkapkan dalam pikukuh Karuhun (ajaran nenek moyang) yang menyatakan, "lojor teu meunang diteukteuk, pondoh teu meunang disambung", artinya, panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung. Ini tentang kesederhanaan, hidup apa adanya. Tidak perlu drama, apalagi playing victim kayak politikus itu. 

Tentang keselarasan dengan alam diungkapkan dalam kalimat, "Gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak", yang artinya, gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak.

Dari ungkapan ini muncul konsekuensi beberapa larangan seperti, larangan merubah jalannya air dan larangan merubah bentuk tanah. Artinya, orang Baduy dilarang membuat aliran air, bendungan, kolam, bahkan sumur. Begitu juga soal larangan mengubah bentuk tanah, orang Baduy tidak membuat sawah. Mereka berladang di tanah apa adanya, atau sawah kering dengan tanaman padi gogo, beras merah. Dalam hal membangun rumah pun harus mengikuti prinsip tidak boleh mengubah kontur tanah. 

Karena tidak boleh membuat sumur, kampung orang Baduy selalu berada dekat mata air. Ini memang tipikal Sunda yang menamakan kampung atau desanya dengan awalan Ci, yang artinya mata air. 

Tak hanya itu. Ada juga larangan memasuki hutan tertentu dan menebang pohonnya. Serta beberapa larangan lain seperti pemakaian alat modern untuk kehidupan. Semua kehidupan harus serba alami. Alam yang memberi hidup, alam harus dilestarikan. Kelestarian alam adalah kelangsungan hidup. 

Dan kita lihat betapa relevan nya pikiran seperti ini di tengah modernitas yang justru makin meminggirkan manusia dari alamnya sendiri ke alam artifisial seperti mal dll. Akibat modernitas adalah industrialisasi yang eksesif yang banyak menimbulkan masalah lingkungan seperti turunnya kualitas udara. Alam Baduy di Banten sudah dikepung industri berat yang bertebaran di kawasan Banten. Dan Baduy masih lestari dengan alam nya. Ikut mensuplai karbon dari hutan yang mereka lindungi. 

Tradisi lain yang tidak kalah penting dalam masyarakat Baduy adalah seba. Tradisi yang sudah ada sejak zaman Kesultanan Banten ini adalah  ritual warga Baduy membawa hasil panen ke pendopo pemerintahan setempat. Ini bukan semacam upeti ataupun tindakan politis tertentu. Orang Baduy sangat tulus dan tidak mau ajarannya dikaitkan dengan politik. Ini hanya pelestarian tradisi yang diajarkan Karuhun mereka untuk "ngasih ratu ngajayak menak, megeuhkeun tali duduluran", yang artinya, membimbing para pemimpin negeri, memperkokoh persaudaraan. 

Seba mempunyai makna batiniah bagi warga Baduy yang menjunjung tinggi amanat luhur para leluhur, dan secara lahiriah mendatangi pemerintah setempat yang mereka sebut sebagai Bapak Gede. Sebuah pesan kebangsaan bagi kita semua, warga negara. 

Orang Baduy meyakini tugas melestarikan alam yang diamanatkan para leluhurnya tidak mungkin bisa tanpa dukungan pemerintah setempat, atau Bapak Gede. Karenanya, dalam ritual seba, selalu ditegaskan oleh para pemuka Baduy di hadapan pemimpin daerah setempat, bupati, gubernur, untuk terus melindungi eksistensi dan kelestarian alam. 

Pengakuan akan kedaulatan negara yang tercermin dalam budaya seba ini sungguh sangat aktual dalam kehidupan berbangsa kita saat ini yang tengah dihantui oleh ideologi transnasional dan gerakan separatisme. 

Masih banyak nilai luhur masyarakat Baduy yang perlu kita teladani. Dari Baduy kita belajar bagaimana kita menjadi manusia, dan bagaimana kita menjadi bangsa. 

Dan pada tanggal 2 September 2023 nanti, Grha Putih akan melakukan bakti sosial ke masyarakat Baduy. Selain sebagai bentuk ucapan terimakasih atas semua hal yang sudah diberikan oleh masyarakat Baduy pada kami, termasuk sumbangan karbon dari hutan yang mereka rawat dan lestarikan, juga kami perlu belajar banyak dari "saudara tua" kami. Orang Baduy menyebut komunitas diluar mereka sebagai "Sunda Muda". Dan kami merasa tersanjung diakui sebagai saudara muda. Sebagai sesama saudara, patut menjaga silaturahmi dengan rasa tulus saling menyayangi. Kali ini, kami yang akan "seba" ke saudara tua kami.
(gp/tim)


Posting Komentar

0 Komentar