Ticker

6/recent/ticker-posts

Pemuda; Kado Untuk Pak Ganjar

JAKARTA (28 Oktober 2023)|| grhaputih.com

Jika ada moment terpenting dalam sejarah Indonesia setelah hari proklamasi 17 Agustus  1945, maka itu adalah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Bisa dikatakan, saat Sumpah Pemuda inilah embrio Indonesia terbentuk dalam rahim Ibu Pertiwi sebelum kemudian lahir di tahun 1945. 

Seperti kita ketahui, memasuki abad 20 setelah periode  kebijakan Tanam Paksa atau cultuur stelsel oleh Gubernur Jenderal Johanes van den Bosch yang menyengsarakan bumiputra tapi memberi keuntungan besar bagi Belanda, adalah munculnya kebijakan politik etis. Kebijakan Tanam Paksa mendapat banyak kritikan bahkan di negeri Belanda sendiri. Akibat kritik ini, muncul kebijakan baru sebagai “balas jasa” atas semua kesengsaraan tanam paksa. Kebijakan itu berupa politik etis, yang salah satu pengusulnya adalah Theodorad Conrad van Deventer di tahun 1901. Tiga program politik etis itu adalah, irigasi, edukasi dan emigrasi atau perpindahan penduduk agar penyebarannya lebih merata. 

Meskipun politik balas budi tetap mendapat kritikan karena dinilai punya  maksud tertentu dibalik politik ini, namun harus diakui, dampak dari pendidikan yang diterima oleh sekelompok kecil bumiputra ini adalah munculnya tokoh tokoh pergerakan nasional yang membawa era baru perjuangan bangsa ini, yang berjuang bukan lagi dengan perlawanan fisik bersenjata, tapi dengan organisasi, yang tidak semua berbentuk organisasi politik, tapi juga pendidikan, sosial, dan keagamaan. Tapi semua memiliki tujuan yang sama; mengedepankan kemajuan, persatuan dan kebangsaan Indonesia. 

Kulminasi dari gerakan baru melawan kolonialisme ini adalah kesadaran akan kebangsaan atau nasionalisme yang kemudian menyatukan semua organisasi pemuda itu dalam sebuah sumpah yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda di tanggal 28 Oktober 1928, yang mengikrarkan berbangsa satu, bangsa Indonesia. Bertanah air satu, tanah air Indonesia. Berbahasa satu, bahasa Indonesia.


Di peristiwa inilah kata “Indonesia” bukan lagi cita-cita dan pemikiran, tapi konsep yang harus diwujudkan sebagai nation, state dan media komunikasi yakni bahasa. 

Ide tentang bangsa Indonesia adalah persatuan semua suku suku dan keyakinan di wilayah Hindia dalam satu ikatan kebangsaan yaitu Bangsa Indonesia. Semua suku, puak, dan sebagainya secara sukarela meleburkan diri dalam satu ikatan bernama Bangsa Indonesia. Ini adalah bentukan nasionalisme sebagai modal untuk membuat sebuah negara. Nasionalisme adalah ruh negara. 

Gagasan tentang kenegaraan juga unik, yakni Tanah Air. Tidak seperti bangsa lain yang mengidentifikasi wilayahnya sebagai “tanah” atau land saja seperti Motherland, Fatherland, dst tapi bangsa Indonesia memasukkan air sebagai bagian integral wilayahnya. Bukan lantaran wilayah Indonesia yang berkepulauan yang antar pulai disatukan dengan arus air laut, namun dibalik kata tanah air ada konsep yang menurut sejarawan muda, Soe Hok Gie dalam bukunya “Zaman Peralihan”, merujuk pada dua budaya utama yakni budaya agraris (tanah) dan budaya maritim (air). Budaya agraris menghasilkan komoditi yang kemudian diperdagangkan lewat jalur maritim. Istilah ekonominya, produksi dan distribusi. Dari sinilah mengapa air juga merupakan bagian integral wilayah negara kita. Sebuah pemikiran yang melampaui zamannya.

Sebuah entitas bangsa yang diikat dalam wadah negara, tentulah membutuhkan alat komunikasi yakni bahasa. Maka bahasa juga menjadi bagian penting dalam Sumpah Pemuda yang diikrarkan dalam butir sumpah ketiga yakni berbahasa satu, bahasa Indonesia. Ini menegaskan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa. Bahasa yang berbasis pada bahasa Melayu yang sudah lama menjadi bahasa pergaulan (lingua franca) bangsa Nusantara. Selanjutnya, pada tanggal 18 Agustus 1945 Bahasa Indonesia resmi ditetapkan sebagai bahasa negara, bertepatan dengan ditetapkannya UUD 1945, dimana dalam salah satu pasalnya, pasal 36, menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara yang sampai saat ini masih terus digunakan. 

Ditetapkannya Indonesia sebagai bangsa, negara dan bahasa, adalah alasan, "raison d'être", mengapa Indonesia harus merdeka dan lahir menjadi bangsa yang  berdaulat dan setara dengan bangsa bangsa lain di dunia. Oleh karena itu, sebagai bangsa yang sejajar dengan bangsa bangsa lain di dunia,  bangsa Indonesia berkewajiban menghapus kolonialisme sebagaimana yang termaktub dalam alenia pertama pembukaan UUD 45, penjajahan di muka bumi harus dihapus karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadiilan. Dan seperti amanat dalam alenia keempat, Indonesia juga akan berpartisipasi aktif untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. 

Demikianlah, tanpa pemuda rasanya mustahil bangsa ini akan lahir. Demikian hebatnya peran pemuda, hingga Presiden Sukarno pernah berkata: “Berilah aku 10 pemuda, niscaya akan aku guncangkan seluruh dunia.” Dan memang bukan sekadar kata kosong. Karena pada momen berikutnya dalam periode pergolakan sejarah Indonesia, para pemuda lah yang tampil di garda terdepan dalam membela dan mempertahankan republik ini di tengah rongrongan imperialisme yang ingin kembali menjajah. Boleh dikatakan, pemuda saat itu melakukan mission impossible. Bagaimana tidak, mereka yang dalam usia gen Z zaman sekarang harus berjuang mewujudkan negara baru ini. Sutan Syahrir masih mahasiswa semester 4 ketika harus berbicara di forum PBB untuk mempertahankan secara diplomatis keberadaan Indonesia. Sukarno Hatta masih berusia sangat muda dan masih tergolong fresh graduate ketika harus memimpin bangsa ini. Sudirman yang “hanya” guru SD Muhammadiyah di Purwokerto harus menjadi Panglima militer yang memimpin perlawanan aksi militer Belanda, meski harus bernafas dengan satu paru saja. Dan ribuan lagi pemuda yang bersatu membela republik ini bahkan dengan nyawa, yang diabadikan dalam sajak Chairil Anwar,  Antara Karawang Bekasi:

“Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu. Kenang, kenanglah kami”

Dan kini kami akan tetap mengenang dengan terus memompakan semangat kebangsaan, persatuan, dan kemajuan pada generasi milenial, gen Z, gen Y, menuju Indonesia emas 2045.  Dan kami yakin seorang yang bisa memimpin untuk membawa bangsa ini menuju bangsa maju adalah sosok yang hari ini sedang berulang tahun ke 55. Sosok yang lahir di hari Sumpah Pemuda pada tahun 1968. Bapak Ganjar Pranowo. 

Kepada seluruh generasi muda, dari millenial hingga gen Z, gen Y, mari kita semua bertekad mewujudkan Indonesia Emas 2045 dibawah kepemimpinan Bapak Ganjar Pranowo dengan mendukung beliau menjadi Presiden Indonesia mendatang. Inilah momen yang tepat untuk meneguhkan kembali tekad anak muda sebagaimana dulu anak muda melahirkan Indonesia. 

Tulisan ini buat kado kecil untuk bapak Ganjar Pranowo yang berulang tahun hari ini.(tim/grhaputih)

Posting Komentar

0 Komentar