Ticker

6/recent/ticker-posts

Ketum JAKA Teguh Prihandoko bersama Ketum Grha Putih Ahmad Akbar Memperingati Hari Pahlawan di Surabaya

JAKARTA || grhaputih.com

SURABAYA - Hari ini, Jumat 10 Nopember 2023, Ahmad Akbar, putra Almarhum pejuang 10 Nopember 1946, Achijat Alap-alap, bersama Manajemen Midtown Hotel Surabaya, mengadakan acara tabur bunga di Makam Letnan satu Mohammad Achijat, merupakan salah satu tokoh pejuang yang lahir di Simokerto. 


Ketua relawan Ganjar Surabaya, JAKA, menyambut baik semangat arek-arek Suroboyo dalam memperingati dan menghargai perjuangan para pahlawan. 

Sosok Letnan Achijat turut berjasa besar dalam perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya di Surabaya.

Acara ini dihadiri oleh istri almarhum, yaitu Hj Eva Nurma, bersama anak2nya, juga mas Bambang Sulastomo, putra dari Pahlawan Bung Tomo, yang semuanya terbang langsung dan Jakarta, dan setiba di bandara Juanda, langsung menuju TMP Ngage Rejo, untuk acara yang dilakukan jam 15,00 WIB.

Pak Dony, GM Mistown Group Surabaya, inisiator acara yang difasilitasi oleh Midtown Group, menjelaskan bahwa, dalam rangka Hari Pahlawan 10 Nopember, sudah semestinya putra putri Surabaya akan bangga, bila mempunyai banyak pahlawan yang berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan yang diproklamirkan pada tanggl 17 Agustus 1945.

Maka, Midtown dengan penuh semangat, mengadakan rangkaian acara hari Pahlawan, dan selalu ingat pesan Bung Karno, “jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah.”

Pegiat Sejarah Surabaya yang juga salah satu putra Moch. achijat, Nurmansyah, SH, mengatakan, “ayah daya, Letnan Achijat adalah putra keenam pasangan Joyo Rais dan Muninten. Sejak kecil Letnan Achijat dikenal anak yang mandiri, ulet dan pemberani sebagaimana sifat khas yang dimiliki arek-arek Suroboyo.”

Pada saat insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato (Hotel Majapahit) pada 19 September 1945, Letnan Achijat juga turut serta bersama kawan-kawannya. Bahkan, Achijat sempat naik ke kisi-kisi atap hotel. Namun, dia terjatuh.

Dalam insiden tersebut, pejuang arek-arek Suroboyo berhasil merobek warna biru pada bendera Belanda menjadi warna merah dan putih.

"Pada 25 September 1945 di usianya yang masih 17 tahun, Letnan Achijat bergabung dengan Laskar Hizbullah," ungkapnya.

Karena dinilai cakap dan memiliki jiwa kepemimpinan, maka Letnan Achijat ditunjuk sebagai kepala seksi IV membawahi Surabaya Timur dan berkedudukan di Sidotopo dan sekitarnya.

Pada akhir September 1945, lanjut Setiawan, markas tentara Jepang di Surabaya diserbu arek-arek Suroboyo dan pejuang. Oleh Polisi Istimewa pimpinan Inspektur satu M Jasin, tentara Jepang yang kalah perang diwajibkan menyerahkan senjatanya.

Di Blauran, kala itu terjadi insiden mobil yang dikendarai tentara Jepang dirampas arek-arek Suroboyo.

Dalam kejadian tersebut, jatuh korban dari pihak Jepang dan beberapa ditawan hidup-hidup. Usut punya usut, otak dan pemimpin pada saat insiden Blauran yang heroik itu ternyata Letnan Achijat.

"Karena aksi nekat, cepat dan terperinci pasukan yang dipimpin Letnan Achijat saat insiden Blauran, orang-orang akhirnya menjuluki kelompok Achijat dengan sebutan Pasukan Alap-alap," bebernya.

Penggagas Komunitas Surabaya Historical ini menyatakan, pada awal Oktober 1945, Letnan Achijat sempat masuk BKR Kota. Namun, tak lama dia keluar. Letnan Achijat lantas lebih memilih membesarkan Pasukan Alap-alap yang kemudian menjadi bagian dari Laskar Hizbullah milik kaum nahdliyin.(tim/gp)

Posting Komentar

0 Komentar